Menemui Pagi

pada pagi, kita menyimpan banyak janji; menyelesaikan tugas, merampungkan tulisan, merapikan buku-buku, membeli ini-itu, meminta maaf, juga menyicil rindu.

pada pagi, kita mengharapkan banyak hal terjadi:
selesainya sakit, tuntasnya beban, ramainya energi, sampai jinaknya pikiran.

lalu, pada suatu pagi, aku menemukan seseorang mengunyah sesuatu yang berkilauan dari piringnya, dengan tekun ia melahap satu demi satu kristal, suaranya kunyahannya renyah. matanya melihatku lalu seakan bertanya, “mau juga?

aku menoleh ke kanan ke kiri, memastikan dua hal: 1. memang aku yang ia maksudkan, 2. aku berada di ruang dan waktu yang nyata.

“apa yang kau kunyah?”
“ini.. puisi yang sedih.”
aku ber-ah.
“.. aku boleh minta sedikit? kurasa kupunya acarnya. kau harus banyak makan acar setelah ini.”
tanpa mendegarkanku, ia  memejamkan mata dan terus mengunyah, “rasanya seperti ini, enak sekali.”
“aku punya acarnya.” ulangku, “biar kau tidak mati.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s