Kembang-Kembang Api dan Gula

Pada ketidaksempurnaan mengelola rasa,
ada mata yang darinya, kau seperti meneguk telaga

emoticon-emoticon acak yang darinya
kau bertemu kembang-kembang api, juga kembang gula

berupa sadar,
Allah begitu baik

Ia bahkan menutup bau-bau busuk dan membiarkan diri melenggang di tengah
kerumunan manusia, menerima ucapan-ucapan selamat, dan penghargaan
penghargaan.

“Aku senang kamu disini.”

Wow…
Formalitas atau tulus, bukan urusan penting. Menyampaikannya butuh usaha,
dan aku masih harus menahan haru, mengetahui ada orang-orang yang berusaha
melakukannya.

Sabda Allah yang dieja lamat-lamat, adalah transmisi, penghubung
tentang harapan dan rindu-rindu. Berdesak, memberi tahu bahwa

Ramadan adalah bulan kesempatan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.

Dari di ruang pikiran yang pengang, campuran antara bising jalan Merr dan rencana-
rencana yang bertabrakan, berbicara pun harus berteriak.

“KAU BAIK-BAIK SAJA?”
“OH– YA, INSYA ALLAH.”

Memastikan saja. Alhamdulillah.

Advertisements
Kembang-Kembang Api dan Gula

Selfie

Oknum T : *nunjukin tweet seorang ustadz tentang Selfie* Menurutmu?

Hm. Dear T, Aku mungkin akan fokus pada pendapat mengenai fenomena selfie-nya saja, bukan ke Ustadznya, kenapa? karena paknya itu temennya Ustadz Salim. (Lho?) Ya biar nggak logical fallacy number one: ad hominem. 

Selfie.
Aku kayaknya sering selfie. Kamu mungkin akan menemukan banyak fotoku di hape kawan-kawan dekatku. Aku tidak akan menolak jika kamu ajak selfie maupun grufie. Tapi memang, aku jarang masang foto selfie di akun media sosial sendiri.

Kenapa? Uhm, sesungguhnya ini cerita yang panjang…………………..
Singkat cerita, dulu aku percaya, muslimah sejati adalah mereka yang memajang foto bunga atau pemandangan atau kutipan Alqur’an di foto profil mereka. Tetapi, semakin kemari, aku kemudian menyadari bahwa menjadi muslimah itu lebih dari itu. Aku kemudian memilih untuk tidak memasang foto karena aku…. merasa cukup percaya diri.
Aku kadang kepingin banget masang satu foto yang.. tampak bagus. Tapi, di detik yang hampir sama, muncul pertanyaan yang bikin mempertimbangkan lagi… posting foto elok gini buat apa ya? Biar apa ya? …

Apa bener cuma buat jadi identitas akun? .. atau biar bisa jadi referensi? Biar bisa dipertimbangkan bahwa aku cocok dan harus banget dijadikan teman bergaul? atau cukup memenuhi kriteria fisik sebagai calon istri? ….

T, sepertinya, aku nggak membutuhkan persetujuan masyarakat bahwa diriku ini, si Anisah Fathiroh, adalah sosok yang cantik, maniez, ngehits, atau mirip finalis ASEAN Top Model— dan kudu banget dijadikan teman bergaul. Aku percaya bahwa teman-teman tetap mau nggumbul denganku meski hanya dengan foto profil yang begitu. Lain soal kalau ada orang lain yang masang foto selfienya bareng aku. Itu udah bukan urusanku sih.
Jadi aku pribadi lebih milih foto-foto yang artisitik gitu (setidaknya menurutku :v) atau foto bareng-bareng. Ini pilihanku, tidak menutup kemungkinan ada orang lain di luar sana yang punya alasan lain. Ya tidak masalah.

Di sisi lain, ada tesis bikinan dosen yang pernah ku-review waktu ujian, (maaf banget, cuma nemu abstraknya) yang relevan sama fenomena selfie ini. Yang intinya bilang, ada beberapa muslimah yang di facebooknya nggak majang foto dan tidak menggunakan nama asli, sesungguhnya sedang berupaya menunjukkan kepada publik tentang siapa dirinya– identitasnya. Ada hal-hal yang ia sematkan dan ia ingin publik percaya tentang konsepsi seorang muslimah: taat, patuh kepada perintah agama, dan tentu saja menjaga aurat.

 … as a face with Islamic Make Up, Facebook can become a laboratory of self-creating for its users, as a result, those informants can reflect their Islamic identity creatively and symbolically through code switching process, as a make-up. Therefore, Facebook, through all writings produced by those informants, can finally be concluded as a media that can make mystification of the discourse of Islam women.

Hal-hal mengenai tidak memajang foto selfie sebenarnya bisa melahirkan takabbur yang lain, “Noh, gini lhoh berperilaku yang bener sebagai muslimah tuh. Gini lho seharusnya menjaga aurat itu. Gak bener semua tuh cewek-cewek selfie.”

Semoga aku dijauhkan dari lintasan pikiran seperti itu. Jadi apapun pilihan sikap terhadap sesuatu, harus tetap hati-hati, waspada sejak dalam pikiran.

Erhm… Itu sih. Wallahu a’lam bisshawab.

Selfie

Dear Wanderer,

dear wanderer,
who packed a pair of shoes on a bottom of the big backpack and got them dirty in the next ten minutes,
what does rain look like there? is it a group of falling yarn or a swarm of beads coming from the sky?
from the gazing spot you made, could you recognize the brightest star of orion– rigel?

dear wanderer,
would you telling me the taste of silence in the most crowded place you visit,
could you differ your loudest thought and the giggle of a city?
tell me the color of sunset you see with the teary eyes, which trees that help you stand strong when your knees are shaking because of cold or anger or unbearable guilty?

your dreams are the time machine where I could probably mention how old your soul is.
oh dear wanderer, on a completely serious note,
i think that possibly maybe i am adoring you. this big.

Dear Wanderer,

Membayangkan Perjumpaan

Semoga kata-kata yang muncul setelah ini adalah doa yang dilantunkan dengan perasaan yang dulu-duluan menyalip di hati; takut, harap, cinta.

Di setiap membaca firmanNya tentang janji pembalasan terbaik— surga, saat sedang merasa diri menyedihkan, atau saat tiba-tiba disergap rindu luar biasa, aku kemudian berpikir… tentang sebuah pertemuan.

Surga adalah sebuah kata yang terasa sangat mewah, suci, dan jauh.

Sangat jauh.

Saat SD, surga pertama kali kukenal sebagai hadiah liburan abstrak setelah melakukan perbuatan baik. Aku ingin ke surga, karena bisa makan mangga sepuas-puasnya tanpa perlu memetik. Bisa gulung-gulung di tanah hijaunya yang luas dan bisa manjat dan mengeksplorasi rumah pohon-rumah pohonnya. Sudah, itu saja.

Semakin lama, aku kemudian pelan-pelan paham (dan percaya) surga adalah keniscahyaan yang dijanjikan Allah. Terlepas dari segala keindahan fisiknya, hanya di surgalah orang-orang terpilih akan bertemu cintanya, Allah. Lalu dimanakah aku nanti?

Aku selalu membayangkan, akan berada di tengah gerombolan orang-orang yang sedang mengantre panjang. Semuanya tidak sabar ingin segera memasuki surga. Semua sibuk menunggu giliran sambil berbisik-bisik, bertanya-tanya, “Akankah Rasulullah mengajakku juga?” semua bergabung dalam riuh orang-orang yang menyambut rombongan pertama yang masuk surga, Rasulullah dan generasi pertama pemeluk Islam. Saat orang-orang bershalawat, aku merasakan ‘DEG’ yang campur aduk, rindu, harap.

Kau disana, Rasulullah, kau disana.

Orang yang disebut Allah berulang kali di Alquran, seorang teladan, pemimpin, yang kutumbuhkan cintaku lewat pemahaman-pemahaman, yang kupelihara rinduku padanya. Ia memasuki pintu surga perlahan, diiringi para Shahabat dan shahabiyah dengan nama-nama bersejarah.. ada Sumayyah, shahabiyah pertama yang masuk surga karena mati dengan memegang Allah dan Rasul di hatinya. Lalu itu…. itu ‘Umar yang gagah, Abu Bakar yang lembut, itu ummu Khadijah, ‘Ali dengan Fathimah…. Wajah mereka  berseri, inilah kemenangan yang dijanjikan Allah.

Aku menatap rombongan pertama itu dengan mata berkaca, suaraku kelu, tenggelam oleh suara-suara penduduk surga yang lain. Dengan apa yang kulakukan di dunia, sungguh aku tak merasa pantas bersanding dengan nama-nama yang membuat bulu kuduk merinding karena perjuangannya untuk Allah, membandingkan saja aku tidak berani.

Aku takut luar biasa.

Surga begitu mewah dan terasa sangat jauh…

Sangat jauh.

Cinta memang butuh pembuktian. Semoga aku diberi kesempatan untuk membuktikan cinta untuk layak dipertemukan disana, bertemu denganmu, ya Rasul.

Bertemu denganMu, Ya Rabb.,

Membayangkan Perjumpaan

Mengenal Orang-Orang

Stereotype: ENFPs are hyperactive social butterflies who never stop spewing off about their feelings.

Reality: ENFPs have intuition and thinking as their extroverted functions, meaning they’re much more comfortable posing questions and debating ideas than they are talking about their feelings. They are also highly reflective and need more alone time than any other extrovert – many ENFPs actually initially assume themselves to be introverts!

Heidi Priebe, kontributor di salah satu weblog di WordPress menjelaskan singkat tentang realitas yang bertolak belakang dari stereotipe kepribadian-kepribadian manusia yang dipecah jadi 16 oleh Jung dan Myers itu. Aku kurang paham latar belakang Priebe, namun, erhm– mungkin aku kena efek Forer atau Barnum, penjelasan itu lumayan benar.

Well yes, I did follow and fulfil bunch of questions, yes-no, or comparison to find out a little about who I am according to that so-called scientific and reliable personality test; MBTI, Blood Type, graphology, and etc.
It is scary yet impressive when a stranger (even the competent one, through the set of questions) says about who you really are.

Diidentifikasi sebagai seorang ENFP, pada awalnya membuatku terkejut dan terkagum-kagum, *kena efek forer lagi* wow, bener banget nih.
Kemudian menjalani hidup dengan seuprit pengetahuan tentang karakter diri sendiri lalu dipertemukan dengan orang-orang yang ber-MBTI sama, lalu aku berkaca. Hm, kok kayaknya aku nggak gitu juga ya..

Manusia terdiri dari rangkaian spektrum peristiwa, ide, pengalaman, bacaan, tontonan yang pernah ia konsumsi dan tentu saja membuat satu sama lain betul berbeda. Darinya, ada hal-hal yang hanya dapat dipahami (dengan lebih baik) ketika ia dibuat berbicara, atau dengan menjalani barang sehari dua hari perjalanan. Bagiku, mengenali karakter diri dan/atau memutuskan mengenali lebih dalam orang lain adalah suatu hal yang mengasyikkan sekaligus merepotkan, apalagi jika ingin meneruskan sampai pada tahap memahami..

Sepertinya aku pribadi akan berusaha lebih bijak melihat seseorang dengan tidak mengenalnya berdasar hasil MBTI atau golongan darahnya (saja).

Mengenal Orang-Orang

Dari Draft 2012: Mimpi-Mimpi Egois

Wow.. Sejak kapan kolom Draft WordPress jadi elegan begini? Aku telah lama meninggalkanmu, Gul..
Ekhem, mungkin.. tulisan ini terinspirasi setelah mengetahui bahwa banyak orang — yang saat itu menurutku wih-wih-wih– suka pergi ke gunung dan memikirkan banyak hal disana… sambil foto-foto.
Mungkin juga, ditulis setelah nonton film 5 cm? :v

Wahai Nezha yang sudah berkepala dua, mari menulis (lagi) tentang mimpi yang ini dan yang lain.

____

Sampai sekarang, kadang aku suka tanya ke diri sendiri berulang kali..
Itu mimpi-mimpi, beneran ingin dicapai atau karena ingin memenuhi ekspektasi dalam diri supaya, yah, merasa ada hal dari diri yang bisa dibanggakan?

Sigh. Mimpi-mimpi egois.”

Ada suara dari pojokan kepala yang nyeletuk– waktu aku dengan semangat-semangatnya menulis penaklukan-penaklukan yang kurancang. Aku berkerut, egois? iya kah? Mimpi-mimpi egois itu menurutnya adalah cita-cita yang berorientasi tentang diri sendiri, tentang pencapaian pribadi, yang ketika kita mampu melakukannya, akan ada perasaan luar biasa yang berluapan. Bangga, merasa mampu, dan sebagainya. Dan selesai disitu. Yah, dibarengi sedikit-sedikit rasa syukur.
Aku mengamati lagi. Aku pernah diam-diam berjanji akan menaklukkan sebuah gunung. Dan sampai sekarang masih penasaran. Katanya disana sunrisenya bagus, langit yang terasa sangat dekat berbaur dengan bumi yang meninggi– katanya membuatmu jatuh cinta, atau di tempat seperti itulah kamu bisa paham tentang hakikat penciptaan– menghayati kelemahan eksistensimu.
Dan seterusnya.

Aku pernah deg-degan sedikit saat membocorkan rencana yang menurutku asing dan keren ini ke ibuku, lalu dengan cepat kemudian ibu dengan matanya yang mengantuk runtut bercerita kekhawatirannya. Aku paham sih, ibu belum pernah menemukan ada anggota keluarganya yang punya hobi bergulung-gulung dengan alam. Ditambah aku sendiri yang kadang masih suka sangsi dengan keinginan ini. Beneran? Apa bukan cuma buat gaya? Kroscek niat sesering mungkin. Apa yang sebenarnya kita inginkan dari pencapaian-pencapaian itu?

Maslow bilang, secara hierarkis self-actualization adalah sebuah pemenuhan tertinggi yang dimiliki manusia. Wajar, dan.. seharusnya begitu, katanya.
Jadi, mungkin benar. Kita butuh beberapa mimpi egois untuk mulai belajar menaklukkan ketakutan dalam diri. Ini yang beberapa saat ini sering kulatih.

Bersemangat, Nezha.

Dari Draft 2012: Mimpi-Mimpi Egois

Menemui Pagi

pada pagi, kita menyimpan banyak janji; menyelesaikan tugas, merampungkan tulisan, merapikan buku-buku, membeli ini-itu, meminta maaf, juga menyicil rindu.

pada pagi, kita mengharapkan banyak hal terjadi:
selesainya sakit, tuntasnya beban, ramainya energi, sampai jinaknya pikiran.

lalu, pada suatu pagi, aku menemukan seseorang mengunyah sesuatu yang berkilauan dari piringnya, dengan tekun ia melahap satu demi satu kristal, suaranya kunyahannya renyah. matanya melihatku lalu seakan bertanya, “mau juga?

aku menoleh ke kanan ke kiri, memastikan dua hal: 1. memang aku yang ia maksudkan, 2. aku berada di ruang dan waktu yang nyata.

“apa yang kau kunyah?”
“ini.. puisi yang sedih.”
aku ber-ah.
“.. aku boleh minta sedikit? kurasa kupunya acarnya. kau harus banyak makan acar setelah ini.”
tanpa mendegarkanku, ia  memejamkan mata dan terus mengunyah, “rasanya seperti ini, enak sekali.”
“aku punya acarnya.” ulangku, “biar kau tidak mati.”

Menemui Pagi