Kita Akan Sampai di Jogja

“Kita akan pergi naik kereta. Tujuan kita Stasiun Lempuyangan, kita akan mampir Keraton dan mendengar kisah dari pemandu tentang sejarah kota itu. Lalu kita akan naik becak menuju Masjid Keraton dan menemukan bahwa sejak dulu, para ulama telah berdakwah dengan lembut dan menjadi penasihat terbaik Sultan. Ah. kita juga akan mampir Masjid Jogokariyan yang jamaah subuhnya mencapai 50% jamaah sholat jumatnya, yang masjidnya tersedia PlayStation dan WiFi semata hanya ingin membuat anak muda lebih betah di masjid. Kita akan sampai dan mempelajari banyak hal!” Katamu.

Di tengah-tengah berhentinya kereta ekonomi ini, samar kulihat kau berkemas setelah sebelumnya menyelesaikan perbincangan serius yang singkat dengan seseorang di telepon.

“Kau sudah bangun? Hei, begini. Aku harus pergi, aku menemukan jalan lain.”

Aku yang masih pening hanya mendapatimu menyalamiku sambil berucap,

“Sampai jumpa di Jogja. Aku pergi dulu, kita akan bertemu. Kudoakan keselamatanmu.”

Baiklah. Kita akan bertemu di Jogja.

Rencana menyambangi masjid-masjid dan menuai hikmah dari segerombol cerita historis tentang luar biasanya ulama di jaman dahulu menaklukkan Jogja mungkin tidak terlaksana. Karena kau ternyata sudah sampai di Madinah. Tanah yang didoakan Rasulullah dua kali lebih berkah dari Makkah. Tanah yang bahkan Imam Malik pun menolak untuk beranjak darinya. Tanah tempat bersaudaranya Muhajirin dan Anshar.

Penaklukan yang luar biasa cepat. Perjalanan jauhmu kau lakukan dengan baik. Kau ingin berjalan lebih jauh maka kau mencari teman yang tepat. Dan Alhamdulillah, kau sudah menemukannya. 

Menjalani perjalanan, menurut Erick Weiner di buku the Geography of Bliss-nya, adalah bersifat pribadi. Meskipun kita pergi bersama, pemaknaanku tentang perjalanan kita, mungkin sama sekali berbeda dengan pemaknaanmu.

Dengan suara kereta ekonomi ini, aku kesulitan membaca buku perjalananku. Banyak coretan dan catatan kaki yang berantakan. Lalu aku mengira-ngira; apa selama ini aku adalah manusia yang merepotkan? Atau terlalu cerewet? Atau tidak peka? Atau kurang cekatan mengolah tanda-tanda? 

Harus kuakui dengan berat hati, sedari awal ini semua mungkin memang tentang perjalanan kita yang sendiri-sendiri.

Insya Allah, semoga Ia selalu temukanku dengan jawaban atas tanyaku tentang hal yang berputar-putar di kepala. Jawaban yang tak harus dalam wujud penjelasan manusia. Semoga hatiku cukup jernih untuk menemukan jawaban-jawaban dari ayat alquran yang secara acak kubuka dan kubaca.

Dalam suara derit kereta menembus dini hari ini, aku menulis pertanyaanku. Hei, seperti apa warna senja di Madinah yang berlatar Masjid Nabawi?

Jika aku menyicil rindu sedikit demi sedikit, akankah aku sampai pula di tempatmu?

Dan, apakah kau ingat dulu pernah berjanji mendoakan keselamatanku?

Advertisements
Kita Akan Sampai di Jogja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s