Anak-anak di Kabaca

Bismillahirrahmanirrahim.

Kemarin aku terharu sekali. Akhirnya aku menjejakkan kaki di Kafe Baca Ceria. Tempatnya di Jalan Wisma Penjaringan Sari E-7, dekat dari rumahku. Yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai Kafe Baca Ceria silakan menghampiri situs resminya di sini.

Yang membuat terharu salah satunya adalah tempat ini sangat dekat dengan Sekolah Dasar. Berarti akan ada banyak…. anak-anak. Pertama kali berjalan menuju rak-raknya yang masih berantakan buku-buku, aku merasa melayang. Bukan karena Mbak Eci yang menyambutku dengan manis, tetapi tempat ini membuatku merasa sedikit lebih dekat dengan….. anu, mimpiku. Aku berkeinginan membuat tempat yang seperti ini di tempat yang….. jauh.

Semua terasa nyata. Mendengar bagaimana awal cerita Mbak Eci mencuatkan ide di facebook, respon kawan-kawannya, cerita tentang orang-orang luar biasa yang rela saja menyerahkan buku berkardus-kardus untuk Kabaca, atau tentang anggota-anggota Kabaca yang (memang) kebanyakan anak-anak SD Penjaringan Sari.

Wow.

Di awal kedatanganku sebagai volunteer jaga Kabaca, aku deg-degan. Malah sempat berdoa, “Ya Allah….. semoga hari ini nggak ada pengunjung.” sehingga aku akan lebih meresapi kehadiranku di ruang ini, bersama buku-buku yang kutemui saat masih SD, melunasi hasrat membaca masa kecil yang terenggut oleh minimnya akses terhadap buku.

Hujan turun, lumayan deras. Aku bersyukur diam-diam. Kayaknya bener nggak ada pengunjung.

Aku kembali menekuri buku lalu dikejutkan oleh suara.

“ASSALAMU’ALAIKUM!”

Aduh. “Eh, iya.. Wa’alaikumsalam….”
Pengunjung pertamaku adalah anak laki-laki berusia sekitar 8 tahun yang memakai jas hujan lengkap. Dengan senyum cerah ia melepas satu persatu jas hujannya.

“Kakak namanya siapa?”

Eh? tadi dia menanyakan namaku? Lalu aku menyebutkan nama, masih meraba-raba situasi. Itu.. benar anak SD. Ia tampak sangat menguasai tempat ini. Setelah merapihkan jas hujan, meletakkan tas dan sepatu dengan cekatan, ia lalu meloncat ke rak, mencari buku yang sudah tahu persis dimana.

Ia membuka buku tipis mirip majalah berjudul “Pembuatan Kopi” dan dengan cepat tenggelam dalam halaman-halamannya.

Aku… masih terpaku mengamatinya. Wow…

Bukan kali pertama aku berhubungan dengan anak-anak. Aku punya 5 keponakan balita, dan beberapa kali berhubungan langsung dengan anak-anak SD  lewat Kelas Matahari. Namun kali ini rasanya berbeda.

Namanya David. Kelas 3 SD. Memang sering mampir Kabaca untuk baca, main kartu, atau sekadar ngiup nunggu jemputan. David sangat ramah.

Tak lama kemudian, muncul satu anak laki-laki lagi.
Deg….

Dengan santai ia meletakkan payung dan melepas sepatunya yang basah dan memasuki teras Kabaca. Aku sudah memasang senyum ceria dan ber-hai akrab, lalu dia….. hanya melirikku dan langsung bergabung bersama David yang seru membaca.

Oh–Okay.
Namanya Gusde.

Berinteraksi dengan anak-anak awalnya adalah hal yang selalu kuhindari. Aku bukan tipikal orang yang bisa bertahan dengan anak-anak dengan segala kelakuan mereka yang… tidak bisa ditebak.

Mungkin sejak punya keponakan, perasaan abai, menghindar, cuek. dan sejenisnya terhadap anak-anak perlahan terkikis. Aku justru menikmati kekagetan yang disebabkan tingkah laku tak terduga mereka. Ditambah dengan pengetahuan sekadarnya tentang kejahatan terhadap anak-anak mulai dari sistem pendidikan, orang tua yang sibuk, negara yang tidak ramah anak, aku kemudian berjanji untuk menjadi warga dunia yang baik hati. Warga dunia yang mempersilakan manusia-manusia kecil ini untuk merasa aman menjadi anak-anak– bagian penting dari dunia yang kita tinggali. Percaya bulat bahwa dalam pikiran mereka tersembunyi semesta yang mewah dan menakjubkan.

Rasanya aku akan selalu begitu. Mengamati (bayi) dan anak-anak dengan.. deg-degan dan sedikit haru. Membayangkan hal-hal ajaib sedang terjadi bersamaan dalam kepala mereka.

Di Kabaca, aku juga mulai mengenali pola pertemanan anak SD. Selalu tampak siapa yang ingin menguasai teman yang lain, yang curang saat bermain, yang sedang siwakan, atau yang sedang bisik-bisik ngerasani.

Lalu apa yang dilakukan warga dunia saat menyaksikan langsung fenomena-fenomena tersebut?
Mengamati saja. Duh :””
Iya, aku masih khawatir dengan ucapan yang kutujukan pada mereka adalah ucapan yang nuturi banget.

Masih perlu belajar dari Suhu Meutia.

Bersemangat, Warga dunia!

Advertisements

2 thoughts on “Anak-anak di Kabaca

  1. meu March 1, 2015 / 10:29 PM

    Aku masih terlalu dingin untuk dijadikan suhu nez :’ Ayo bangunkan dunia….

    • Hani Ramadhan December 18, 2015 / 11:55 PM

      Suhunya celcius, reamur, fahrenheit, apa kelvin?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s