Perihal Tinggi Badan

Hal yang selalu orang– yang tidak bertemu lama denganku– sampaikan adalah: Nezha! Aduuuh, kamu kok tambah tinggi sih! Tinggimu berapa? Aku minder pek jalan di sebelahmu..

… dan sejenisnya.

Sejak SD, aku selalu terlihat menonjol secara fisik diantara teman-teman. Hal-hal mengenai lebih besar, lebih tinggi, di masyarakat kita entah mengapa selalu diasosiasikan dengan kekuasaan. Aku selalu didapuk menjadi ketua kelas, ketua kelompok, atau anggota tim basket hanya karena modal lebih tinggi daripada anak-anak yang lain. Aku sudah terbiasa melihat ketakjuban orang dengan tinggi badanku, tidak pernah merasa pusing dengan tinggi badan yang sekarang 168 cm ini.

Tapi akhir-akhir ini aku dipertemukan dengan kawan-kawan senasib, teman perempuan bertinggi diatas rata-rata perempuan Indonesia kebanyakan. Ia meyakinkanku bahwa jodoh orang-orang seperti kami ini harus lebih tinggi, minimal sama tinggi.

“Ya biar serasi Nezh.” Ketika kutanya kenapa. Menurutnya, akan sangat aneh jika perempuan lebih tinggi daripada suaminya.

Sesungguhnya beberapa tahun ini aku sudah tidak terlalu memusingkan tingkat ketampanan suami masa depan, berat badannya, tinggi badannya, atau hal-hal kasat mata lainnya. Jika dia beragama baik dan kami satu frekuensi dunia-akhirat (oh, dan direstui kedua pihak keluarga), mengapa tidak?

Namun kemudian aku menyadari, oh iya ya… dari sekian milyar laki-laki di dunia ini, beberapa dari laki-laki itu ingin memiliki perempuan yang cantik, yang pandai mengasuh anak, dan tentu saja… yang lebih pendek dari mereka.

Mungkin karena kita masih hidup di masyarakat yang sangat patriarkis, kita dibuat percaya konsep ideal sebuah keluarga adalah bapak yang secara fisik melebihi ibu. Lebih tinggi atau lebih besar. Aku bahkan pernah mendengar celetukan teman tentang sepasang suami istri yang dilihatnya berjalan di sebuah mall– istrinya gemuk, suaminya kurus, “Wkwkw, angka 10 tuh.

Adalah sebuah keanehan ketika menyaksikan perempuan terlihat lebih dominan dalam rumah tangga, dalam kasus apapun. Selain untuk keserasian foto pelaminan dan berjalan bersisian di Taman Bungkul, apalagi kegunaan tinggi badan dalam sebuah pernikahan?

Tidak hanya laki-laki, namun perempuan ternyata memiliki… err.. apa ya namanya, perasaan-takberdaya-ingin-dilindungi itu. Beberapa kawan perempuan yang bercerita padaku, mereka ingin mendapat perasaan nyaman dari lengan besar suaminya, ingin punya tempat bersandar di bahu suaminya ketika lelah, dan yang agak nganu… pingin digendong manja menyusuri pantai.
“Kan nggak mungkin, Nezh kalau dia lebih kecil dari aku.”

Harusnya kita memahami bahwa laki-laki juga manusia– yang jika kita lucuti ego khas laki-lakinya, juga  ingin merasa aman dalam rangkulan, ingin pula beristirahat dengan bersandar di bahu seseorang, dan juga ingin digendong. Digendong kan keasyikan yang sudah jarang dan ingin dimiliki semua orang.

Eh, mana bisa?  Mana mau laki-laki digendong istrinya menyusuri pantai? Mana mau bersandar di bahu yang lebih kokoh milik istrinya? Mana mau terlihat kecil?
Ah, seakan-akan terlihat (secara fisik) kecil akan menjatuhkan otoritas dan perannya sebagai kepala keluarga.

Rasanya kita harus terus mengingat baik-baik pesan rubah untuk Pangeran Kecil– tentang hal-hal berharga.

 It is only with the heart one can see rightly,
What is essential is invisible to the eye

Aduh, jangan-jangan tulisan ini terdengar putus asa -_-

Advertisements
Perihal Tinggi Badan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s