belakangan saya sudah sangat jarang membayangkan memiliki tuhan yang punya kuasa besar, akan murka jika hal yang tak ia sukai malah jadi..

rutinitas hambanya, intinya seisi alam semesta ialah yang bersimaharaja. tuhan yang menakjubkan tetapi sekaligus menakutkan.

hari hari ini saya lebih membayangkan tuhan sebagaimana layaknya ibu. mamaknya alam semesta. inangnya manusia. induk yang penuh kasih.

pada yang tuhan yang demikian inilah saya bisa membayangkan cinta dan bergetar di dalam bayangan itu.

durhakalah sekuat apapun kalian bisa pada ibu. bantahlah sesering yang kalian mau pada mamak. tutuplah telinga atas nasihatnya…

sekuat yang kalian bisa. mungkin kita pernah mendengar ibu yang mengutuk anaknya jadi batu dengan menangis tersedu sedu kepada tuhan…

yang kita tak pernah tahu, saat anaknya menjadi batu, ibu pasti lebih keras tangisnya agar anakny seperti semula ketimbang tangis yg pertama

begitu pun, lakukanlah maksiat sesering yang kalian bisa, lontarkanlah kalimat yang tak menganggapnya ada sekuat yang kalian bisa…

lalu jika pada suatu ketika kita lelah. menghimpun jari menyimpuhkan kaki di bumi sambil berurai air mata sepenuh hati meminta ampun…

dengan cinta jenis ini, entahkan tuhan, entahkan ibu, melihat kita seolah tak pernah melakukan salah, siap membantu apa yang kita butuh…

cinta jenis ini adalah cinta yang melapangkan sekaligus menghangatkan.

lalu pada kamis yang baik ini, saya berharap tiap tiap kita dianugerahi cinta jenis ini di dalam hati, dalam laku, dalam lisan.

selamat belajar mencintai sebagaimana ibu dan tuhan. selamat merawat akal sehat 😉

Untuk kesekian kalinya, tweet-tweet @muhammadakhyar ini begitu mengesankan.
Aku selalu membaca kicauannya dengan beragam ekspresi; kadang kaget dan terbahak-bahak sangking nggak habis pikir– kok iso tuwepak ngunu, kadang sambil tercenung– nggak mudeng, kadang sampai…. gini, netes susah berhenti.
Sangar wong iki.

Mbak Vinc, kamu sama dia aja Mbak Vinc.

Advertisements
Aside