Orang-orang di 2013.

Tahun kemarin, aku diberi kesempatan ketemu orang baru yang muhuwacem-muhuwacem. Dari yang membuatku melongo karena mengetahui ada orang-sekuat-sesangar-sekaligus-serapuh-itu sampai orang yang semenggebu-nggebu-sekaligus-sepesimis-itu.

Mengenal mereka, aku kemudian memaklumi kehebatan sekaligus kelemahan masing-masing manusia. Kedua manusia ini unik. Sungguhan deh, mengenal pribadi baru, menyimak kisah mereka, aku merasa beruntung sekali.

Banyak hal dari orang tipe pertama yang kemudian mengkristal dalam pikiranku dan mempengaruhi pandanganku dalam melihat jambu di atas meja. Aku digugah perlahan, ia mengetuk pelipisku pelan. Orang-orang seperti ini adalah orang yang sebenarnya bisa ditemui dimana saja. Hanya kita perlu berani untuk memulai pembicaraan dengannya. Dia ramah sih. Tapi biasanya dia adalah orang yang tidak living-in-the-moment, pikirannya berkelana kemana-mana. Pertama kali bertemu dengannya, kau mungkin akan mengernyitkan alis, kehidupan terasa berat sekali di wajahnya. Dia orang yang baik hati sekali, sangat ringan tangan. Untuk hal-hal seperti menimbun perasaan ego, tidak peduli, dan kejam pastinya bukan hal yang mudah, tapi dia bisa melakukannya.

Hati-hati tersesat dalam pikirannya, pesan seseorang. Maka aku memutuskan menyelami pikirannya sambil membawa kembang api dan peta. Hm, memang aku tidak mahir membaca peta, kadang aku tersesat, (tetapi aku tipe orang yang suka tersesat :v) Jika aku tersesat, maka akan kunyalakan kembang api ke langit, menunggu helikopter lewat. Prosentase berhasilnya hanya 15%, biasanya aku menemukan sendiri jejak pulang dari rimba pikirannya, sambil sibuk mengurutkan hal-hal apa saja yang kutemukan di tempat itu. Seru sekali.

Yang kedua, menyimak orang ini bercerita sambil menggerak-gerakkan tangan adalah hal yang menarik untuk orang melankolis sepertiku. Kata-katanya lugas, mulutnya penuh busa menyampaikan ide dan gagasan dengan logat keberaniannya yang kental. Orang ini tidak memiliki banyak teman, sayangnya. Teman-teman itu tidak kuat dengan busa mungkin ya. Aku bukan temannya, aku hanya seseorang yang kebetulan menyimak monolognya sambil lalu.

Kalau boleh menempelkan kesan, ia kusebut sebagai orang yang tulus. Kata Anies Baswedan, tulus adalah mereka yang dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang. Beeeuhh, unyu bets.

Mari doakan dua orang ini agar selalu dikuatkan dan selalu dalam lindunganNya. Aamiin.

Advertisements
Aside

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s