Dari Tu.

Kurasa kita sudah tidak punya muka untuk meminta maaf, apalagi menyampaikan janji-janji. Keduanya tak lagi membuat kita sadar– mungkin karena sangking seringnya diutarakan, mereka jadi kehilangan makna. Jadi begini usulku, bagaimana kalau kita berhenti ngotot melakukan dua usaha itu? Kita los saja, mengembalikan lagi semua pada Yang Memiliki Segalanya. Akan kuyakinkan kau, bahwa kau tak sedang melakukan pekerjaan-pekerjaan itu sendirian. Aku disini juga jumpalitan. Terperosok berulang kali, sama sepertimu. Tenang, ini merupakan proses yang memang harus dilewati. Toh akhirnya kita sama-sama sadar bahwa hal ini akan membawa kita lebih jauh dalam perenungan mengenai makna perjalanan masing-masing.  Duh, semoga kita cukup cerdas ya.

P.S : Hei, jangan sedih begitu. Aku tidak sedang marah kok…

Orang-orang di 2013.

Tahun kemarin, aku diberi kesempatan ketemu orang baru yang muhuwacem-muhuwacem. Dari yang membuatku melongo karena mengetahui ada orang-sekuat-sesangar-sekaligus-serapuh-itu sampai orang yang semenggebu-nggebu-sekaligus-sepesimis-itu.

Mengenal mereka, aku kemudian memaklumi kehebatan sekaligus kelemahan masing-masing manusia. Kedua manusia ini unik. Sungguhan deh, mengenal pribadi baru, menyimak kisah mereka, aku merasa beruntung sekali.

Banyak hal dari orang tipe pertama yang kemudian mengkristal dalam pikiranku dan mempengaruhi pandanganku dalam melihat jambu di atas meja. Aku digugah perlahan, ia mengetuk pelipisku pelan. Orang-orang seperti ini adalah orang yang sebenarnya bisa ditemui dimana saja. Hanya kita perlu berani untuk memulai pembicaraan dengannya. Dia ramah sih. Tapi biasanya dia adalah orang yang tidak living-in-the-moment, pikirannya berkelana kemana-mana. Pertama kali bertemu dengannya, kau mungkin akan mengernyitkan alis, kehidupan terasa berat sekali di wajahnya. Dia orang yang baik hati sekali, sangat ringan tangan. Untuk hal-hal seperti menimbun perasaan ego, tidak peduli, dan kejam pastinya bukan hal yang mudah, tapi dia bisa melakukannya.

Hati-hati tersesat dalam pikirannya, pesan seseorang. Maka aku memutuskan menyelami pikirannya sambil membawa kembang api dan peta. Hm, memang aku tidak mahir membaca peta, kadang aku tersesat, (tetapi aku tipe orang yang suka tersesat :v) Jika aku tersesat, maka akan kunyalakan kembang api ke langit, menunggu helikopter lewat. Prosentase berhasilnya hanya 15%, biasanya aku menemukan sendiri jejak pulang dari rimba pikirannya, sambil sibuk mengurutkan hal-hal apa saja yang kutemukan di tempat itu. Seru sekali.

Yang kedua, menyimak orang ini bercerita sambil menggerak-gerakkan tangan adalah hal yang menarik untuk orang melankolis sepertiku. Kata-katanya lugas, mulutnya penuh busa menyampaikan ide dan gagasan dengan logat keberaniannya yang kental. Orang ini tidak memiliki banyak teman, sayangnya. Teman-teman itu tidak kuat dengan busa mungkin ya. Aku bukan temannya, aku hanya seseorang yang kebetulan menyimak monolognya sambil lalu.

Kalau boleh menempelkan kesan, ia kusebut sebagai orang yang tulus. Kata Anies Baswedan, tulus adalah mereka yang dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang. Beeeuhh, unyu bets.

Mari doakan dua orang ini agar selalu dikuatkan dan selalu dalam lindunganNya. Aamiin.

Hape.

Waktu muda dulu (:v), saat SMA, aku punya teman yang selalu setia menemani sampai kelas 12 awal. Setelah googling dengan keysearch “hape nexian yang mirip blackberry”, aku menemukan gambar yang paling mendekati dengan rupa temanku itu. Ini.

Gaul kali.
Gaul kali.

Ini hape hadiah dari kakak cewek yang di Bandung sekitar empat tahun lalu.

Awalnya dia berjanji akan membelikan BlackBerry dari gaji pertamanya. Sebagai anak SMA awal yang saat itu merasa keeksisan perlu dikukuhkan lewat hape-hape, aku senang sekali. Sampai akhirnya dia memberikan aku hape itu. Aku seperti dihempas ombak mengetahui bahwa BlackBerry yang dia maksud adalah BlackBerry-BlackBerryan. Ditambah lagi, beberapa hari setelahnya aku mengetahui kenyataan bahwa hape itu bukan dibeli dari gaji pertamanya, tapi hadiah undian doorprize jalan sehat di kantornya. Baiklah…

Meskipun begitu, hape ini memorable sekali. Ia menemani hari-hari dan menyimak cerita-ceritaku dengan tabah. Saat membukanya lagi di tahun 2013, aku wow sendiri dengan isinya. SMS-SMS, playlist yang berisi lagu-lagu di masa awal keukhtian (baca : lagu-lagu Snada dan Gradasi), tulisan yang tersimpan di draft SMS yang tak sempat ditulis di buku, sampai video-video yang kuputar saat sedang suntuk, masih tersimpan dengan baik.

Lalu ada video ini.

Aku ingat, video ini jadi healer dari pengangnya kehidupan sekolah yang penuh dengan tekanan dan tuntutan. Huahaha. Tersimpan dengan baik di hape nexian yang pernah mengguncang kelas karena bunyi alarmnya– yang kata Tissa mirip speaker sunatan, saat jam pelajaran yang sunyi.

Hussh my darling, don’t fear my darling,

the lion sleeps tonight~

Nasib hape Nexy sekarang di tahun 2014, sepertinya.. sudah mati.  Ia tidak bisa ditolong lagi dengan batrai baru. Dijual juga… orang-orang pada nggak tega belinya (tutup batrai belakangnya pecah dan hilang, lalu ayahku me-lakbannya)

Jadi dia disini saja, di rak lemari. Beristirahat dengan tenang.

Dia teman perjalanan yang unik sekali. Aku rindu masa-masa bersamanya.

Mari Berpolitik!

Cara Bu Sinta Yudisia ini bisa jadi referensi untuk membangun kesadaran politik anak. Politik tidak hanya tentang event lima tahunan, baliho di sudut-sudut kota, atau koar-koar dengan bahasa mumbul dan ngotot di televisi. Jika kita arahkan ke ranah keluarga, politik juga tentang melatih keberanian si kecil (dalam hal ini yang dianggap lemah) di tengah keluarga untuk tidak harus selalu mengalah dan bersedia (saja) ditindas oleh kakak-kakaknya (yang dianggap berkuasa), dan banyak hal lagi. Coba deh cek.
Hmmm…
Berarti pembelajaran politik masa kecilku gagal —

Journey of Sinta Yudisia

Pernahkah anda mengajarkan si kecil berpolitik?
Bagaimana mungkin mengajarkan anak di bawah umur untuk memilih partai, anggota legislatif dan memahami cara politik bekerja! Tentu, bila makna politik dipersempit sebagai cara seseorang mendapatkan posisi dalam pemerintahan, kita tak mungkin mengajarkan anak SD berpolitik.
time-young-voters

Perilaku seseorang tidak dibentuk hanya dengan sekali kejadian. Mengapa seorang anak takut kecoak dan berseru girang melihat kucing, apalagi gajah dan jerapah? Secara logika, jika takut melihat kecoak, maka akan semakin takut melihat binatang yang jauh lebih besar. Proses berpikir, adaptasi, modelling dan seterusnya membentuk perilaku hingga setelah dewasa pun, kita berseru jijik dan gemas melihat kecoak. Padahal cukup sekali injak, gepenglah ia.

Stereotip tentang polisi pun demikian.
Sejak kecil, ketika si anak susah makan, ibu akan berkata ,”awas, nanti Mama panggilkan polisi!”
Tak cukup hanya itu, si kecil menyerap demikian banyak informasi dari sekitar, ketika percakapan orang dewasa terjadi ,” pakai helm, biar gak ditilang polisi!” atau…

View original post 1,446 more words