Aku pikir kita tak benar-benar berpisah. Sementara dirimu bertambah sibuk mengurus ummat di sekitarmu, aku mungkin baru sampai pada memperbaiki diriku dan sibuk merindu.. Menelaah kembali mimpi-mimpi besar kita.

Pada akhirnya aku mengerti kita tetap pada bangunan peradaban yang sama. Yang pondasi awalnya dimulai dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa. Yang dibangun perlahan bersama tekad dan keyakinan.

Yang berbeda kini adalah.. Kita terasa jauh.. Sebab sedang membangun pilar demi pilar yg membuktikan konsistensi kita.

Kali ini aku merasa hujan membasahi bangunan yang kita upayakan ini, dengan barokah-Nya. Jadi.. Sempatkan ya untuk berdoa, bukan untuk kita saja. Tapi juga bangunan ini. Semoga pondasinya tidak terkikis zaman.

– Meutia Mega

Aku pernah begitu takjub dengan kebaikan Allah yang telah menyesatkanku di suatu tempat. Di tempat itu, aku yang dulu suka bersungut-sungut, labil, tidak tenang, tidak paham esensi, perlahan mulai mengkonstruksi lagi hal-hal mengenai niat, tujuan, dan pandangan. Aku melakukan itu semua tanpa merasa sedang didorong-dorong atau ditarik-tarik. Aku duduk, memandang sekeliling, mengamati gerak tangan dan mimik wajah mereka, melakukan sesekali penilaian, menimbang sambil terus mencari tahu. Beberapa saat kemudian, dalam waktu yang cukup lama, kuputuskan untuk meletakkan sekeping hati disitu. Ah, untuk urusan ini, aku juga tidak punya kuasa. Lagi-lagi Allah.

Duh, aku memang belum melakukan apa-apa untuk tempat itu.

Semoga Allah beri aku kesempatan.

Advertisements
Aside

Korespondensi di Awal Desember

Sore itu mendung. Di sebuah buku yang terbuka, ada tulisan yang bertanya,

‘Kau disini sebenarnya sedang apa?’

Pertanyaan esensial seperti ini kurasa penting untuk terus kau tanyakan padaku, kau ulang sampai aku harus meng-shhttmu dengan gusar. Agar pikiranku tetap lurus, paham hakikat, maklum dengan perbedaan cara memandang sebuah jambu di atas meja.

Apa yang sebenarnya coba kamu perjuangkan?

Tjih. Perjuangan mbelgedes. Kata itu terlalu tinggi, jangan dipakai. Karena di pantulan kaca, aku melihat manusia tanggung yang lututnya gemetaran sambil mengepalkan tangan, “Berjuang!”

Kontribusi? Kontribusi hakcuih. Ganti, coret, jangan gunakan kata itu. Mulai sekarang aku akan berlatih bicara dengan membungkukkan badan.

Tulis seseorang dengan cepat-cepat.

Membaca ini, aku mesem. Penakut sekali orang ini. Dia juga tidak konsisten dengan kata ganti aku dan kau. Beberapa saat kemudian, kucoba untuk memahami perasaannya lewat gerak tinta pulpennya, aku sedikit tahu 5% tentang graphology.

Setelah agak paham dengan maksudnya, kutulis dengan hati-hati di baris bawahnya:

Yang kauhadapi adalah pahatan es tinggi. Sudah tahu kan?

Maksudku… Kau serius?

Apa yang kaucoba buktikan? Kau punya apa sih?

Kok… Berani-beraninya.

Keesokan harinya, di lembaran buku yang terbuka, ada tulisan baru.

Aku hanya pegal sekaligus muak dengan keluhan yang kubuat sendiri. Kata-kata mungkin benar dapat menjadi racun. Hih, andai kamu denganku disini. Penjelasanku tidak akan seribet ini.
… tapi tidak apa sih, perhatikan aku dari jarak saja, tidak perlu dekat.
Kurasa itu lebih melegakan. Aku akan bebas dari perasaan harus tampil sebaik-baiknya.

Dari jauh saja. Setuju?

Setelah berpikir sekitar sebelas menit, aku membalas.

Nanti kau jadi alien. Aku tidak mau punya kawan alien.

Keesokan harinya, dia membalas.

Halah, aku tahu lagu favoritmu. Kau selalu berharap punya teman dari luar angkasa.

Aku mengaduh. Dia rasanya pernah mendengar aku bersenandung lagu Mojako.

Baiklah.

Korespondensi di Awal Desember