Puisi-puisi itu Menurutmu

Whose woods these are I think I know.
His house is in the village though;
He will not see me stopping here
To watch his woods fill up with snow.
My little horse must think it queer
To stop without a farmhouse near
Between the woods and frozen lake
The darkest evening of the year.
He gives his harness bells a shake
To ask if there is some mistake.
The only other sound’s the sweep
Of easy wind and downy flake.
The woods are lovely, dark and deep.
But I have promises to keep,
And miles to go before I sleep,
And miles to go before I sleep.
Robert Frost – Stopping by Woods in Snowy Evening
Kamu pernah UTS terus di tengah-tengah mengerjakan, kamu merasa jatuh cinta tiba-tiba dengan soalnya? *lebaaay.
I did. Introduction to English Literature. Di soal terakhir, aku disuruh menjelaskan menurutku puisi Stopping wood in snowy evening itu seperti apa, dan apa yang kurasakan ketika membacanya. Sesederhana itu.
Nada bilang, puisi itu tentang unrequited love. Vita bilang, puisi itu tentang seekor kucing yang tersesat dan kedinginan.
Di dalam sastra, puisi menjadi objek yang membebaskanmu, boleh kamu ajak bicara dengan cara apapun. Kamu boleh memiih puisi-puisi itu akan berbuat apa. Mencengkram, menggeliat di pikiranmu, atau secara sadar membuat nafasmu tertahan, ingin segera minum. Untuk menginterpretasi, kadang butuh berulang kali untuk kemudian paham— ini puisi mau ngomong apa sih? Puisi Robert Frost yang lain, Out-out, harus kubaca empat-lima kali. Puisi itu mengerikan. :v
Poems do whisper you something.
Aku masih baru sih dalam membaca sastra Inggris. Sampai saat ini pun aku masih kesulitan memahami teks drama Shakespare, belum menemukan nganu yang dibilang orang-orang. Ya, aku masih akan terus belajar.
Eh, aku jadi teringat statement seorang dosen tentang filsafat ilmu dalam sastra.  Kapan-kapan deh kuceritakan.
Advertisements
Puisi-puisi itu Menurutmu

Orang tua kepada Anak

Terberat dari orang tua adalah melepas anak untuk menjadi dirinya sendiri

Makin membesar anak, makin menipis lucunya, makin menebal persoalannya

Aku rela pada penderitaanku tapi tak rela pada penderitaan anak anakku. Itulah kelemahanku

Di dalam diri anak terdapat harapanku. Inilah yang memberatkan hidupnya karena harapanku bukan harapannya

Anak anak selalu menjadi anak kecil di mata orang tuanya, dan inilah yang membuat anak tak sabar ingin segera menjadi dewasa

Orang tua ingin anaknya bahagia dengan cara mengganggu kebahagiaannya

Anak sering menolak diajak diskusi orang tua. Maka diskusi sering kuganti doa

Anak sibuk kuliah saja sudah membuatku sepi. Apalagi kelak ia bekerja dan berkeluarga. Aku lepas dari keluarga, anakku lepas dariku

Orang tua sering meminta anaknya terbang tinggi sekaligus memintanya untuk terbang dekat dekat saja”

– Tweet lama @Prie_GS

Hatiku kayak habis lewat jeglongan.

Orang tua kepada Anak

Palsu

Aku merasakan semuanya palsu. Janji kita palsu, bicara kita palsu, tubuhmu bersirkulasi dari darah-darah yang pura-pura bergerak, aku pura-pura mengasihanimu sambil mengambilkan kau tissu.
Hubungan kita palsu.
Kau tahu siapa yang tertawa paling keras atas sandiwara ini?
Dia.

Sungguh, kau seperti buah-buah yang membusuk di kulkas yang dingin. Dilihat setiap hari tapi malas orang menyentuh. Malas aku menyentuh.
Karena menurutku kau terlalu tua.
Lebih baik dibuang di keranjang sampah.

– Oknum A yang sedang marah-marah pada pantulan kaca.

Aduh. Semangat, Oknum A!

Palsu