Detik-detik di Lampu Merah

Sore ini pukul 16.55. Tak ada yang istimewa, rutinitas pulang ke rumah selalu seperti ini, kampusku di Timur Surabaya, rumahku di Selatan. Dengan motor ini, perjalanan dari kampus  ke rumah paling cepat menghabiskan 20 menit— tidak mungkin hanya 20 menit saat jam masuk dan pulang kantor. Cukup melelahkan, ditambah pikiran yang selalu pusing ketika macet dan menahan kesal saat hampir menabrak angkutan umum atau motor yang mendahului.

Lampu merah pertama.

Aku wes ngomong toh, awak dewe karek ngenteni perintah komandan ae.

Aku menoleh, bapak separuh baya dengan kemeja otak-kotak oranye berbicara di HP yang ia selipkan di helmnya, tertawa sambil melambaikan tangan mengusir pengamen kecil yang berhenti di depan motornya. “HAHAHA gak usah khawatir. Kape mbok kapakno seh, iso langsung dicairno kok iku. Nurut jare komandan. HAHAHA.”

Lima detik lagi lampu hijau. Aku bersiap.

Jalanan Kertajaya belum terlalu ramai. Bunga kecil kuning-kuning, —angsana kalau tidak salah namanya, meliuk-liuk, seperti asyik sendiri dengan dimensinya. Roda-roda sok sibuk kadang suka mengacaukan kerumunan angsana di udara. Menikmati mereka, aku merasakan kesenangan yang malu kuakui. Aku menikmati bunga begitu khusyuk di tengah perjalanan.

Sampailah lagi aku di lampu merah kedua. Aku memberhentikan motorku dan meletakkan kaki kanan di trotoar, menunggu lampu hijau yang 55 detik lagi nyala sambil melipat tangan.

Lalu aku mendengar suara isakan tertahan.

Arah jam 10-ku, jarak kurang dari setengah meter, seorang perempuan dengan tas ransel besar dan kerudung biru muda yang lebar— sepertinya, sedang menangis.

Tidak, tidak. Dia benar menangis. Terisak tertahan.

Aku mengernyit, aneh sekali orang ini. Menangis di atas motor yang berhenti di lampu merah. Apa tidak malu?

Beberapa detik kemudian aku menoleh ke kanan dan ke kiri dengan sedikit gusar, tidak mau menyaksikan ini sendirian, jika hal-hal tidak diinginkan terjadi dengan perempuan ini, (tiba-tiba pingsan, misalnya) aku bisa repot. Secara posisiku paling dekat dengannya. Dan sialnya, di sekeliling kami hanyalah mobil-mobil yang kacanya tertutup rapat, rasanya hanya aku yang mendengar isakan itu.

Masih 30 detik lagi lampu merah berganti jadi hijau. Isakan itu masih terdengar, tertahan. Hatiku mulai ngilu. Aku cari kemungkinan alasan dia menangis. Nilai kuis yang buruk? Merasa gagal menjadi pengemban tugas? Rindu orang tua yang nun jauh disana? Kasihan sekali. Hei, tapi aku bisa apa?

Aku mulai tak nyaman, merasa tidak sopan menyaksikan curahan emosi seperti itu di tengah jalan. Dan tiba-tiba, isakan itu berhenti. Pelan-pelan, kepala itu menoleh ke samping, ke arahku. Dari helm berkaca beningnya, sepertinya ia kaget menemukanku ada disana. Sekilas, aku hanya melihat kacamatanya berembun. Slayernya basah. Dia diam. mengerjap-ngerjap. Aku pura-pura tidak melihat, sibuk mengamati…. apa saja. Kenapa aku yang jadi salah tingkah?

Mungkin dia malu. Ia lalu memajukan motornya, sedikit menjauhiku. Memberi jarak yang lebih di depanku.

Detik-detik selanjutnya tiba-tiba terasa aneh, dengan langit yang mulai berubah warna jadi jingga, aku mengamati tas ransel hitamnya, dan merasa kami sudah saling mengenal. Jauh sebelum ini.

Lalu aku kelimpungan menghapus pikiran yang tiba-tiba jadi romantis.

Advertisements
Detik-detik di Lampu Merah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s