Anak.

Sebulan lalu rumah ini ramai sekali. Dua keponakan yang sedang dalam masa emasnya, Azzam, Adham dan satu ponakan berumur 6 bulan yang pipinya kunyah-able menjadi alasannya. Kuberi tahu rahasia : dengan adanya bayi dirumahmu, rumah tiba-tiba akan menjadi lebih ceria dan berwarna karena orang-orang di dalamnya tiba-tiba menjadi bersuara unyu dan suka tertawa.

Melihat ponakan-ponakan ini, aku telah mempraktikkan beberapa hal yang kuketahui mengenai mengasuh anak, kusebut ini Auntying. :v Membacakan cerita sebelum tidur, melatih imajinasi saat bermain, menjadi teman belajar, sampai memandikan dan membujuk supaya mau pakai baju.

Ternyata susah sekali. Susah sekali beristiqomah dalam hal ini.

Aku suka bayi kalau mereka sedang manis aja.

Untuk ngganti popok Si Bayi 6 bulan, Fayyadh, yang ada “jackpot”nya, aku masih…… ergh…. gitu, lalu membiarkan umminya sendiri yang membersihkan. Azzam, ponakan 3 tahun, kalau tingkahnya sudah mulai merepotkan, aku kadang ngeloyor pergi pelan-pelan, membiarkan orang lain yang mengurusnya.

Saat semua orang sedang sibuk di pagi hari mempersiapkan ke sekolah dan kantor, dan Azzam sibuk mencari perhatian mereka, betapa TV kemudian menjadi obatnya. Dan aku hanya melihatnya sambil…… sedih, membayangkan jam-jamnya yang berharga itu berakhir di kartun TV yang berentetan lalu membayangkan dia akan lebih suka nonton tv daripada membaca. Di kasus lain, ketika umminya memperingatkan sambil agak teriak, aku membayangkan puluhan ribuan neuron di otaknya redup lalu mati.

Sedih sekali.

Lalu aku membayangkan anak-anakku nanti.

Maksudku, menjadi orang tua benar membutuhkan kesabaran luar biasa. #lawas………………. Bagaimana kamu harus memberi perhatian penuh kepada anak-anak emas itu, menanamkan nilai-nilai, menjadikan mereka pemberani, dan menekan kemarahan. Belum lagi dengan pikiran tentang pertanggungjawaban nanti di hadapan-Nya. Gimana ya itu….

Aku selalu mengagumi ibu-ibu muda yang begitu ceria bersama anak-anaknya. Mungkin akan tidak terasa terlalu melelahkan karena ada perasaan cinta, sayang, dan bahagia yang tidak terdeskripsikan gitu ya. Kayak.. di wajah anak-anakmu kamu menemukan duniamu. Mereka adalah bukti bahwa Allah begitu mempercayaimu untuk dititipi anak dan melanjutkan perjuanganmu menjadi manusia. Kamu cinta. Jadi meskipun anakmu buang air kecil dan besar terus belepotan kemana-mana, kamu akan nyantai-nyantai aja membersihkannya, anakmu nangis keras gara-gara nggak diijinkan nonton superman dan film kekerasan lainnya– alih-alih mencubit keras pipinya kamu akan otomatis melakukan apa saja untuk mengalihkan perhatiannya, entah tiba-tiba jadi gajah, kodok, apa saja. Kamu melakukan semua itu karena kamu cinta. Gitu.

Jadi memang benar, bukan hanya ilmu-ilmu teknis semacam ngganti popok, mandiin, yang harus terus dilatih, tetapi juga perasaan menjadi ibu. Kan bisa aja gara-gara nggak siap dengan tanggung jawab, seorang ibu jadi nggak mau punya anak karena takut sama prosesnya atau hal-hal semacam phobia suara bayi (onok tah?) yang membuatnya jadi benci bayinya sendiri. Perasaan keibuan itu harus ditumbuhkan dan dipupuk dari sekarang. Aku kan tidak bisa sayang anakku pas dia habis mandi aja, atau pas lagi lucu-lucunya aja. Nggak bisa.

Selamat melatih perasaan!

Ohya, mau pamer ponakan :3

IMG00487-20130814-1245

ini azzam

ini fayyadh

ini Fayyadh

met ultah dari adhaam

ini Adham

Advertisements
Anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s