Orang-orang

Mari kita sampaikan dukacita mendalam pada semangat yang mati– semoga mati suri, pada misi yang didukung oleh orang-orang yang sembunyi, dan pada orang-orang yang memilih pergi lalu mewujudkan niat tulus di luar pagar. Orang-orang yang lain, mereka peduli kemudian menyesal. Di pikiran mereka terbersit penyesalan karena terlanjur mengetahui dan menyadari, karena ketika mengetahui, ada semacam tekanan yang mereka buat sendiri untuk bertahan kemudian menyembuhkan.

Sebentar, ada yang lucu, mereka anggap diri mereka penyembuh.

Semua diawali dari pertanyaan paling mendasar mengenai definisi, “Sebenarnya itu ruangan apa sih? Mereka makan apa sih? Sehari-hari ngapain sih? Untuk apa sih?”

Sayangnya, jawaban dari pertanyaan-pertanyan ini tak pernah jelas, selalu  dijawab sambil menguap.  Bisa ditebak, yang akan kita lihat akan sama lagi, kacung-kacung yang bersemangat, berjalan lenggak-lenggok, tiba-tiba merasa penting dan terkenal.  Orang-orang yang tidak puas dengan jawaban angop-angop itu tentu saja kecewa dan marah-marah, lalu memilih pergi juga seperti pendahulunya. Mereka pergi, dan menurut asumsiku, mereka senang.

Dan orang-orang yang menyebut diri mereka penyembuh, harus bergabung lagi dalam karnaval lenggak-lenggok. Bedanya mereka dengan kacung-kacung adalah, mereka setidaknya mengerti bahwa cita-cita tulus harus terus diperjuangkan, dan digaungkan. Tidak peduli berada di tempat seperti apapun.

“Jika memang harus, aku bersedia jadi tumbal.” kata orang yang bertahan. Tumbal. Mistis sekali. Yah, sekaligus mengharukan.

Jarang ada yang mau jadi tumbal. Sekali jadi tumbal, biasanya mati kedinginan. Karena Ia berhadapan budaya serupa es, dan sendirian.

Bayi Menurut Anak Usia 6 Tahun

Ada anak usia 6 tahun— sebut saja Oknum A dan Monik (teman mainnya) yang mendengar kabar bahwa ada bayi yang baru saja lahir dan tinggal di dua rumah disamping mereka, alhasil mereka pun mampir ke rumah itu, ingin tahu.  Ternyata memang bayinya lucu sekali, dan seperti bayi kebanyakan, pipinya menggemaskan. Dua anak baru masuk SD itu senang berada disana.

A : Monik, misalnya kalau kita potong-potong bayi ini gimana? aku mau ngambil kepalanya terus tak pajang di rumahku, terus tak uwel-uwel pipinya setiap saat!

Monik : Yaaah, sebenernya aku juga suka pipinya… yasudah, aku pahanya aja.

Setelah itu, ibu bayi itu memarahi dan menyuruh mereka pulang. Dia sepertinya membenci mereka, terbukti dari pengusiran yang lumayan membekas: cubitan kecil di lengan dan pelototan.

Padahal, maksudnya itu Oknum A sedang mengungkapkan kegemasannya pada bayi….

Kalau kamu, apa yang kamu pikirkan ketika mendengar ada percakapan seperti itu di depan bayimu?