Surat dari Tahun 2053

Dear Nezha.

Selamat pagi. Apa kabarmu hari ini? Kalau aku tidak salah, tahun 2013 itu kamu umur 19 ya? Bagaimana kabar ayah dan ibu?

Pertama-tama, perkenalkan, aku juga Nezha.

Err…. Iya, Anisah Fathiroh. I’m your 59 years old- self. Kuharap kamu tidak merasa ter-pressing ketika membaca surat ini. Kamu ter-pressing atau takut? …

Jadi, ada teknologi bernama Past-mailing, kita bisa berkirim surat dengan seseorang dari masa lalu kita. Pembuatnya bukan ahli IT atau apa, ia adalah mantan profesor dan waktu muda pernah jadi pegawai kantor pos di Bandung. Dia orangnya agak pendiam dan misterius gitu, tipikal orang tua yang suka marah-marah dan bosan dengan kemajuan zaman, tapi dia bijaksana sekali. Karena ini masih trial, bukan tidak mungkin surat ini tidak akan pernah sampai. Tapi kucoba saja.

Aku menulis surat ini karena aku rindu padamu.

Disini pukul 3 pagi, aku sedang duduk di depan jendela besar, di luar bulan sedang purnama-purnamanya. Ya, 40 tahun mendatang kamu masih bisa melihat bulan, tentang ketakutan bulan yang benar dicuri oleh Gru-yang-lain, itu tidak terjadi.

Hei, apa kabar? Semoga baik-baik saja.

Kamu tahu, dua jam lalu aku menemukan buku berisi catatan-catatan, doodle-doodle, dan daftar mimpi-mimpimu di sebuah notes kuning yang konvensional sekali. Lalu aku tertawa. Tertawa yang penuh dengan arti gitu. Bagaimana kabar proyek-proyek itu? Seingatku kamu merevisi berulang kali, menghapus sambil menahan marah, menulis lagi penuh semangat, bertanya kesana kemari, kamu menulis sambil malu-malu, tak merasa pantas untuk sekadar menulis, kemudian kamu akhirnya berani juga, percaya.

Jika kamu bertanya bagaimana kabarku sekarang, maaf aku hanya bisa menjawab dengan senyuman penuh teka-teki. Haha. Aku punya banyak cerita, tentang petualangan-petualanganku–kita, tahap-tahap kehidupan yang dulu kaupersiapkan, hal-hal yang aku selalu coba pertahankan sekuatnya, isu-isu yang hangat sampai beberapa dekade, kabar saudara-saudara kita, amanah-amanah.. Urgh. banyak. Tapi aku belum bisa menceritakannya.

Oke, sebenarnya aku tidak punya banyak waktu, jadi biar kuberi tahu kau satu hal : Kekhawatiranmu tidak terbukti.

Jadi jangan terlalu cemas. Lakukan saja, Biarkan catatan itu menerobos, mendobrak, mengeluarkan diri dari kotak kecil membosankan lalu menyatu bersamamu. Keluarlah, terbang, melesat, rasakan tamparan udara. Kamu nggak butuh punya sayap, selendang ajaib, atau apalah itu. Kamu nggak mesti jadi dewi untuk melakukan itu semua. Kamu cuma butuh berani. Biar bumi yang jadi trampolin. Kalau sudah sampai masanya, akan kuceritakan semua. Lunas.

Ehm, Dan.. kamu sudah kumaafkan, sejak dulu.

Sudah ya, Si TigaSatu sudah memanggilku, kami mau sholat dulu~~~

Salam uwuwuwu,

Nezha yang sudah punya cucu.