Tahun Duka

Di suatu desa di pikiranku, aku melihat keributan. Lonceng tanda berduka dibunyikan. Ramai, bertalu-talu. Kasihan warganya, mereka dipaksa mengibarkan bendera setengah tiang, padahal mereka sedang asyik berbincang dengan anak-anak rantau yang bercerita tentang warna daun seperti senja yang mereka akrabi di Kanada.

Dari corong masjid yang pecah-pecah suaranya, kudengar:

“Kalian. ini waktunya berduka! Mari berkumpul untuk merutuki langit-langit! Kita sedang dikhianati!”

Penduduk desa keder juga, buru-buru mengganti bohlam dengan warna kelabu. Ini tahun duka, ingat mereka. Anak-anak rantau yang baik hati dan cerdas itu bingung dan akhirnya menjadi pengangguran. Ah, padahal mereka ingin membagi oleh-oleh.

“Ini tahun duka!” lagi, kata suara di corong masjid. Aku kasihan dan tidak habis pikir. Pemilik suara itu lebay sekali. Hih. Harusnya kuceritakan pada mereka istilah tahun duka itu terlalu agung. Istilah itu ada di jaman Rasulullah, ketika dua orang terkasihnya– istri dan pamannya meninggal dalam satu tahun.

Ganti istilah lain, Suara Pecah-pecah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s