Future Project : New Zealand Campervan

Video ini dibuat oleh Edward Suhadi dan istrinya untuk mengabadikan traveling mereka yang unik : keliling New Zealand dengan menggunakan mobil van.

Seru dan inspiratif . :3

Advertisements
Video

Tugas-tugas Kita.

Tidak, kita belum selesai bercerita. Jangan dulu pergi.

Apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Bagi, bagi padaku. Ijinkan aku membacamu, dan akan dengan senang hati kuijinkan pula kau membacaku. Sungguh aku berjanji akan mempercayaimu seutuhnya. Pikiranmu terlalu ramai. Ssshhtt-kan mereka, buat mereka tenang, bersenandungah barang sebait dua bait. Lagu “A home is where the heart is” cukup baik untuk pikiranmu.

Ada syarat untuk semuanya, selalu ada syarat untuk hal-hal mengenai melembutkan hati: kamu harus bersedia untuk dibaca. Terserah kamu mau menggunakan bahasa apa, hanya ijinkan aku untuk mempelajarinya, bertanya padamu tentang cara membacanya, apa seperti bahasa Mandarin? atau Swahili? Jelaskan padaku. Sudah kubilang kan, aku ingin mempelajarimu.

Setelah kamu tenang, aku tenang, kita akan masuk ke dalam perbincangan selanjutnya. Perbincangan mengenai rumah kedua kita.

Banyak hal yang ingin kusampaikan tentangnya. Tentang tempat yang dipilih Allah untukku mengenalmu. Tempat hangat yang sama-sama kita temukan pemahaman-pemahaman baru. Hei, kamu kenapa? sini pegang tanganku, rasakan ada kehangatan yang menjalar. Kita akan sama-sama menangkap bintang lewat tangan-tangan kecil kita. Dan yang paling mendebarkan adalah, kamu akan merasakan apa yang dulu kurasakan.

Ya, kita akan sama-sama merasakan perasaan manis itu.

Lalu ijinkan hatimu untuk melembut, ini kubagi kupu-kupuku. Dan nantinya, kita takkan butuh melihat empat-puluh-empat sunset, karena kita telah saling menjinakkan.

Bagaimana?

Tugas-tugas Kita.

Di Akhir Hari

Beberapa hari ini aku sering menyesal di malam hari. Menyesal di sepanjang perjalanan pulang setelah seharian di luar rumah. Banyak hal yang terjadi hari itu, setelah kuingat lagi, terasa tidak baik. Seharusnya nggak-dan-harus kulakukan. Perasaan seperti itu adalah satu dari sekian perasaan yang membuat hati nganu banget.

Menyesal saat mengakhiri hari. Ugh, tidak keren.

Seharusnya tadi aku nggak usah ngomong gitu ke Oknum X, pasti hatinya sempat terluka. Seharusnya aku nggak sok-sokan gak ada waktu– jatah tilawahku masih banyak, seharusnya aku tadi bilang aja ke ibu tentang anu, seharusnya buku itu tak baca sampai habis, seharusnya tadi aku lebih berguna waktu rapat..

Semua itu diperparah dengan kesibukanku memikirkan apa yang orang pikirkan tentangku setelah kami berinteraksi. Apa aku tadi kekasaren? apa aku kecereweten? apa dia tadi nyaman sama aku?

Yang seperti itu, biasanya nggak terjawab. Di kepalaku, mereka berputar-putar anggun seperti carousel, pelan-pelan, ada musiknya. Dan aku, waktu memikirkan itu semua, maunya ndelik. Padahal itu nggak akan mengubah apapun. Malaikat sibuk mencatat, Allah sedang menyimak. Astaghfirullah……….

Maunya terbenam, aku malu.

Kalau kapan-kapan kamu pernah merasakan seperti yang kurasakan ini, aku punya beberapa tips. Pertama, berusahalah memaafkan dirimu sendiri. Melepaskan perasaan tidak enak itu dengan memakluminya. “Sudah, nggak papa. Nggak… hm… papa….” Susah ancen. Tapi dicoba saja.

Setelah itu, berusahalah lebih teliti dalam menyusun tindakan untuk selanjutnya: yang ini nggak boleh terulang, kalau ini boleh terulang, tapi kondisinya harus gini-gini-gini. Kalau belum tenang juga, makan gula. Maksudku, ambil air wudhu, lanjutkan tilawah. Ditadabburi. Kalau khawatir ketiduran, sambil dengerin murottal juga. Berdoalah untuk dapat diberi kesempatan esok hari untuk memperbaiki sedikit demi sedikit. (Haha, sebenarnya kalau mau menelisik lagi, akan panjang lagi galaunya; kata Buddha, the problem is we think we have time) : ))

Gak masalah, just pray anyway.

Semoga di hari-hari selanjutnya, akan lebih sering tidur dengan senyum mengembang. Khusnul khatimah dalam mengakhiri hari.

Di Akhir Hari

Tahun Duka

Di suatu desa di pikiranku, aku melihat keributan. Lonceng tanda berduka dibunyikan. Ramai, bertalu-talu. Kasihan warganya, mereka dipaksa mengibarkan bendera setengah tiang, padahal mereka sedang asyik berbincang dengan anak-anak rantau yang bercerita tentang warna daun seperti senja yang mereka akrabi di Kanada.

Dari corong masjid yang pecah-pecah suaranya, kudengar:

“Kalian. ini waktunya berduka! Mari berkumpul untuk merutuki langit-langit! Kita sedang dikhianati!”

Penduduk desa keder juga, buru-buru mengganti bohlam dengan warna kelabu. Ini tahun duka, ingat mereka. Anak-anak rantau yang baik hati dan cerdas itu bingung dan akhirnya menjadi pengangguran. Ah, padahal mereka ingin membagi oleh-oleh.

“Ini tahun duka!” lagi, kata suara di corong masjid. Aku kasihan dan tidak habis pikir. Pemilik suara itu lebay sekali. Hih. Harusnya kuceritakan pada mereka istilah tahun duka itu terlalu agung. Istilah itu ada di jaman Rasulullah, ketika dua orang terkasihnya– istri dan pamannya meninggal dalam satu tahun.

Ganti istilah lain, Suara Pecah-pecah.

Tahun Duka

Paling!

oleh: Darwis Tere-liye

Al Qur’an adalah kitab suci paling mulia, paling hebat, dan paling super. Bayangkan, satu milyar lebih pembacanya saat ini, dan separuh lbh dr pembacanya sama sekali tdk mengerti apa yg dibacanya (tp tetap semangat membacanya), dan bahkan walau tdk mengerti, tetap sj bisa menangis. Coba kalian baca buku berbahasa Rusia setebal 600 halaman, pasti tdk akan kuat bahkan hingga halaman 2, menyerah.

Al Qur’an adalah kitab suci paling mulia, paling hebat, dan paling super. Bayangkan, dia dijaga, dikawal, bukan oleh seperti ksatria templar atau persaudaraan freemanson, tp dia dijaga oleh ribuan penghafal, yg bahkan menghafal setiap huruf dan tanda bacanya, tanpa dijanjikan apapun (apalagi harta, kekuasaan, pamor) kecuali kemuliaan di mata Allah.

Al Qur’an adalah kitab suci paling mulia, paling hebat, dan paling super. Karena tdk akan ada muslim yg paling jahil (bodoh) dan non-muslim yg paling membenci sekalipun yg bilang dia punya versi paling lain ttg al qur’an. tdk ada perdebatan walau satu mili ttg ini, hanya ada satu versi Al Qur’an (jangankan versi dgn beda 1 surah, beda satu huruf pun tdk ada)

Al Qur’an adalah kitab suci paling mulia, paling hebat, dan paling super. Karena kitab inilah lampu penerangan terbaik bahkan ketika cahaya diambil di atas muka bumi, dan semesta sedang porak poranda mengerikan, dikepung badai antar-galaksi. Apalagi kalau cuma galau, sakit hati, sedih dan penyakit perasaan lainnya.

Al Qur’an adalah kitab suci paling mulia, paling hebat, dan paling super. Karena kitab ini mengabarkan kejadian-kejadian di masa depan yang terpilih, dan menceritakan kejadian-kejadian di masa lampau yang terpilih, agar darinya, pembacanya bisa mengambil pelajaran kekinian. Tidak ada versi awal, tidak ada sekuelnya. Selalu relevan sepanjang jaman.

Paling!

Facebook dan Bang Tere

Kata siapa? Kata siapa sih kalau kita hanya ditakdirkan ada di situ2 saja, tidak bisa kemana2, entah karena keterbatasan, entah karena memang sudah nasib, maka kita tidak bisa melakukan hal hebat? Tentu saja bisa. Lihatlah si pohon kelapa di pinggir pantai itu. Dia tidak bisa terbang, tidak bisa berenang, tapi buah2 miliknya melanglang buana kemana2, lebih jauh dibanding si burung pipit dan si penyu. Kita bisa melakukan hal yang sama persis. Kebaikan kita, entah itu melalui tulisan, bantuan, pertolongan, dsbgnya, bisa menyentuh sudut2 dunia. Dan hei, hari ini, dunia toh sudah tersambung begitu rupa oleh teknologi, maka sungguh lebih canggih lagi kesempatan petualangan “buah2 kebaikan” milik kita.

Demikianlah. Mari kita kirim “buah2 kebaikan” tersebut kemana2.

Alasan ber-facebook setelah sempat beberapa lama nggak menjamahnya (sampe lupa password dan gak tau ada yang iseng ngirimi gambar aneh-aneh) adalah terpaksa. Terpaksa karena di facebooklah orang-orang suka berkumpul,– masih suka berkumpul dan saling info-menginfoi hal-hal penting terkait perkuliahan, amanah, dsb. Hm, bahkan rapat komunal disana, terlepas dari efektif-tidak efektifnya.

Darwis Tere-liye ini cuma ada di facebook. Beliaunya gak bikin akun lain kayak twitter atau blog. Dan ditengah keragaman facebook seperti status aktivis-aktivis,  portal berita dengan judul provokatif, sampai yang susah dibaca, post-post bang Tere ini seperti vespa. Unik dan kedatangannya ditunggu-tunggu untuk diperhatikan. Hehehe.

Menyenangkan m/

Quote