Menunggu 6 Juli

Ada banyak hal yang ingin kusampaikan, tapi nggak pernah bisa. Alasannya macem-macem; “kalau sekarang aku sedang terlalu lelah, padahal perbincangan kita nanti akan sangat menguras energiku”, “aku menunggu waktu yang tepat– semuanya tepat,” atau aku masih menyusun premis-premis tentang jalannya perbincangan kita nanti, “kalo aku ngomong gini… kayaknya kalian bakal jawab gini….” Selalu seperti itu. dan seperti yang kutahu, pada akhirnya aku akan tetap tidak bicara apapun. Tetap bersama prasangka-prasangka.

Ini menyedihkan sebenarnya. Padahal ruang perbincangan itu terbuka lebar selebar-lebarnya, luas seluas-luasnya.

Aku hanya berani kesana  dengan teman. Nggak bisa sendiri. Karena menurut pengalamanku, bermain di ruang itu, berbicara tentang ini, aku selalu kalah dan semakin buruk. Aku butuh back-up.

Ini tidak bisa dibiarkan.

Aku rasa aku punya kesempatan, mulai tanggal 6 Juli nanti. Dengan bantuan seorang teman yang sangat baik, aku bisa mulai mengajakmu bicara. Tentang semuanya, tentang apa yang sebenarnya kulakukan diluar sana, alasan-alasan, kontrak-kontrak yang akan kubuat dengan tempat kita. Berbicara sambil menatap, mengabaikan segala kemungkinan paling buruk, menahan perih di hidung, tetapi aku yakin, semuanya akan baik-baik saja.

Teman itu, akan ku briefing dengan serius, supaya dia bisa menemaniku dengan baik. Harapanku, nantinya dia juga bisa mempercayaiku, dan membiarkanku  menemaninya, menjadi back-upnya ketika akhirnya dia harus memasuki ruangan itu.

Semoga aku masih punya waktu.

Future Project : Ayunan

Katanya, mainan ayunan selama satu jam dapat membakar 1000 kalori.

Ah, sempurna.

c6b504c688875d004d47f4c5d19463fd

dapet foto dari sini

Di Surabaya, sepertinya sudah nggak ada tempat yang pas untuk naruh beginian kecuali di kompleks-kompleks mahal di Surabaya Barat, itupun suasananya indah secara buatan. Nggak alami. Di taman-taman kota ada sih, tapi ya nggak enak, masa anak-anak itu nungguin aku yang sebesar ini mainan ayunan selama satu jam? Sepertinya foto-foto ayunan itu diambil di deket pantai, di desa-desa, dan pegunungan, bukan di kota besar yang hectic seperti Jakarta atau Surabaya.

Lebih seru lagi kalo ayunannya nggantung di pohon oak. Oke, sebutkan tempat di Surabaya yang ada pohon oaknya? ….

Jadi alternatifnya, kalau harus nantinya, harus, terpaksa, tinggal di kota besar :

1. Rumah nanti di deket taman kota, biar pagi buta habis subuh bisa mainan, sehingga nggak merasa terpressing dengan tatapan tidak sabar anak-anak kecil dan ibunya yang antre pingin main ayunan juga.

2. Bikin sendiri. kalo nanti nggak punya halaman, bisa diatur nanti ayunannya di deket tempat jemuran.

Ohya, foto-foto ayunan yang keren lainnya ada disini

Repost : Tentang Terlambat

Aku datang telat (lagi)

untuk ke 4 kalinya di semester ini
yang tak heranin, dari telat yang pertama ke sesudahnya, kenapa aku nggak pernah ngambil pelajaran.
waktu telat yang pertama, aku cuma ngguyu-ngguyu ae karena yang nggak bisa masuk gerbang libels karena di gembok dari dalam itu ada bejibun, kaya ngantri tol.
yang kedua biasa ae, bersyukur karena hari itu ngga ada PR atau ulangan
tapi pagi ini.. karena sumpek masuk-masukin buku, uang masjid, hape, quran rukuh headset, kertas2 ke dalam tas. dan harus naik-turun tangga karena ngambil barang yang kelupaan di kamar.. belum lagi lampu merah dan orang nyebrang yang terjadi secara berurutan menambah lama waktuku di jalan.
telat ini seperti hukuman langsung. karena telat solat subuh.
aku juga ngga tau nasib ulangan basa inggris dan akuntansi..
dan baru kali ini aku pulang ke rumah dalam keadaan nangis gara-gara telat, nyesel…
kemarin (30/8) aku juga nyaris telat. benar-benar nyaris.
motorku berhasil menembus gerbang khas alcatraz libels sedetik sebelum pak Herman mau menutup gerbang.
aku beruntung sekali. andaikan sedetik tadi itu tak lama-lamain di jalan, pasti kemaren aku juga telat.
ternyata, satu detik itu sangat berharga. Aku ngga mau jadi orang yang rugi..

mulai hari ini dan seterusnya, aku akan berangkat sejam sebelum bel bunyi!

~~~

Postingan dua tahun lalu, waktu menyesal terlambat masuk sekolah. (saat itu kebijakannya yang terlambat dihitung absen)

Aku pernah berjanji, dan melanggarnya. Ini adalah hal yang makin lama makin serius, dan menyedihkan. Sungguh tidak berprigolongan darah A yang baik.

Kepada Ninoi, teruslah memarahiku ketika aku datang kelas terlambat. Mbak Didi juga, bully ae habis-habisan kalau telat njemput buat rapat atau isps. Aku kadang butuh diketok yang kuweras biar sadar.

Kepada diri, maluo. Ini sudah bisa disebut korupsi, tahu.

Kalo kata Ica, your mother-in-laws are everywhere. #kemudianhening

Idealisme.

Saat itu di Minggu pagi yang indah, aku melakukan suatu pekerjaan yang unyu: menyuci motor-motor bersama Oknum F. Sambil nyuci-nyuci, kami ngobrol seputar bagian motor yang paling kotor saat musim hujan, oli motor Oknum I yang habis, STNK motor oknum I yang sudah diperpanjang pajaknya, sampai tilangan polisi yang beberapa saat lalu kualami.

Aku cerita lagi tentang tekad yang nggak mau bayar damai polisi di jalan. Maunya sidang aja di pengadilan, meskipun juauh, sampai nyasar-nyasar Pakuwon Trade Center nggak masalah. “Gak jujur tuh, Num F. Duit yang kita kasih di jalan itu nyampe dikantong polisi sendiri, nggak ke negara.”

Sambil terkekeh-kekeh, Oknum F berujar,

Bagus-bagus, mahasiswa itu harus gitu, idealis. Dulu pas mahasiswa saya juga gitu, “Pokoknya nanti nggak mau jadi PNS! Nggak mau kerjasama sama Hartooo! Gitu. Eh semakin lama, pas udah kerja di satu tempat swasta yang orang-orangnya bisa aja dipecat kapan aja, digaji seadanya, saya jadi mikir juga. Keluarga saya.”

Singkat cerita, Oknum F sekarang adalah PNS.

Ah, oke..

Jadi untuk beberapa orang, idealisme itu nggak terlalu penting untuk dipertahankan– seumur hidup. Alasannya ya cukup wajar dan sangat manusiawi. Hidup yang terus bergerak menuntutnya ini-itu, memaksa menyesuaikan diri, memaklumi. Lama-lama  ide-ide sangar yang dulu diperjuangkan, diyakini kuat-kuat, akhirnya jadi terdengar biasa saja, kehilangan magisnya. Sampai saat ini, aku belum menemukan orang angkatan lama yang masih teguh kuat memegang idealismenya. Aku ingin mengetahui orang itu. Ada, pasti ada. Tinggal mau banyak baca, peka dan keliling-keliling keluar dari zona nyaman.

Atau orang-orang seperti itu ada, dan diberitakan sebagai orang-orang yang menderita, tercampakkan oleh zaman dan jadi ulasan dokumenter memperingati hari pahlawan di suatu stasiun televisi.

I wonder, gimana ya nanti mereka… aku…

:3

Senin Misterius

Apa di luar masih hujan?

Aku sedang merasakan sesuatu yang hangat, namun asing. Mungkin ia adalah kawan lama hujan yang terpisah karena transmigrasi.

Tanyakan lagi padanya, sampai kapan aku harus menunggu disini? Kira-kira saja lah. Pilih: dua atau tiga minggu lagi?

Aku takut bosan. Aku takut tak cukup berani untuk sekadar bertahan.

Aku mewaspadai langit berlebihan, buru-buru membangun menara payung dengan memaksa rakun-rakun yang mengantuk membantuku. Ish, jahatnya.

Aku takut. Aku tak ingin di masa depan akan menatap hujan sambil memicing benci.

Karena sejauh ini dia adalah kawan yang lumayan pengertian. Aku masih ingin bercerita banyak padanya, tepat di manik mata, dengan dua kuping yang siaga menyimak.

Selalu kubayangkan suaranya halus berbisik, “tenang saja, sudah kusiapkan puisi.”

Dan aku senang dibuatnya. Selalu seperti itu, berulang-ulang.