Pertanyaan dan Jawaban

“Tugas saya adalah membuat kalian resah setelah keluar dari kelas ini.”

Pak Listiyono Santoso, dosen filsafat di pertemuan pertama.

ha.. ha…. ha……

Tiba-tiba aku ingat kata-kata ini, setelah beberapa lama. Aku nggak resah yang gimana gitu sih. Cuma jadi sering mengumpulkan pertanyaan. Nggak hanya dari kelas filsafat tok, tapi dari  hal-hal yang terjadi di setiap harinya. Habis dateng acara apa, habis denger cerita apa. Terus timbul pertanyaan. Kok gitu ya? Masak gitu sih? Semacam gagal paham.

Alhamdulillah, biasanya terjawab-jawab sendiri dengan sederhana. Sambil ngobrol-ngobrol atau mendengar cerita orang-orang.

Tapi yang paling sering memukauku adalah ketika kepala sangat berisik tentang suatu hal, penuh pertanyaan dan pinginnya dapet penjelasan, tau-taunya menemukan jawaban sempurnanya saat membaca suatu ayat di Al-Qur’an.

Pas, lugas, dan menenangkan.

Setia

“Kehidupan mungkin memisahkan kami dari teman-teman itu, mencegah kami untuk terus-menerus memikirkan mereka, tetapi mereka ada di suatu tempat entah di mana, diam dan terlupakan, tetapi begitu setia!”

Antoine de Saint Exupery dalam Bumi Manusia, halaman 39.

Kita ini sebenarnya masih dalam satu lingkaran, karena ikatan itu tetap ada, ia transparan dan elastis. Melebar (dan tetap mengikat) untuk mengikuti perginya kita. Mungkin kadang kita lupa kalau masih selingkaran. Jadi, kadang kita diingatkan lagi dengan kondisi ini oleh mereka yang sudah tidak lagi dekat secara fisik. Jangan bingung kalau kamu misal tiba-tiba dikirimin sms nggak penting isinya “kangen, hee..” itu password pengingat.

Eh, jangan salah. Itu kangen beneran. Berterimakasihlah karena kamu sudah diingatkan tentang lingkaran transparan dan elastis itu.

Kamu mungkin sudah lupa warna kesukaanya, atau bahkan caranya tertawa. Tapi lihat, dia disana. Mengingatmu dengan setia.

Day 31 : Jangan khawatir.

Jadi, bagaimana kabarmu disana? Aku disini… hm… insya Allah baik-baik saja. Kapan hari aku memang sempat sedih sih. Tapi, cuma sebentar. Jadi tidak perlu terlalu khawatir.

Aku menulis ini untuk meminta maaf. Maaf sekali. Karena beberapa waktu ini sering tidak menemanimu berjuang. Kamu yang tulus berjalan sambil melihat peta, eh aku malah belok-belok lihat topeng monyet. (Kamu tahu, topeng monyet jaman sekarang sudah bisa naik sepeda gunung. Cool, isn’t it?)

Eh, iya maaf. Aku kan sedang menyesal…

Kadang aku merasa sangat bersalah terhadapmu. Aku kok kayaknya nggak serius gini berniat jadi teman baikmu, padahal aku tahu, untuk menjadi teman baikmu sangat susah dan penuh tantangan. Ada syarat yang harus kupenuhi- it takes years. Tentang aku yang harus bersabar menunggu seleksi menjadi temanmu juga– aku tahu, sangat melelahkan. Karena menunggumu adalah menunggu keniscahyaan, nggak jelas, tapi pasti. Proses menunggu ini yang sangat rentan membuatku lengah, pegel, dan bosan. Hm, untuk meminimalisasi itu, aku akan lebih sering mengingat tujuan awalku. Caranya dengan menulis lebih banyak. Biasanya selalu ampuh.

Kumohon kamu tetap mau disana, menantiku. Proses menantimu mungkin lebih menyenangkan dariku. Meskipun melelahkan, akan kubuat proses ini menyenangkan juga. Aku sedang berupaya untuk kembali ke track yang benar. Ini, aku sudah pegang petaku dan siap berlari lagi. Jadi jangan terlalu khawatir.

Semoga tujuan kita akan tetap dan selalu sama.

Salam semangat,

Calon teman baikmu.

Seliliten Daging Saudara

Waktu mengetahui ada kabar tentang saudara kita (sebut saja oknum X) melakukan kesalahan, hal yang pertama kita selalu lakukan adalah mengkonfirmasi ke banyak orang. Eh, bener tah anaknya begini? Bener tah anaknya begitu?

Dan ternyata setelah dibahas bareng-bareng dengan jamaah/team, perlahan munculah satu persatu ‘kesalahan-kesalahan’ si Oknum X di masa lalu, yang nggak ada hubungannya sama masalah sekarang.

Entah mengapa, obrolan tentang kekurangan saudara selalu bisa hangat dan mengepul. Emang kadang harus hati-hati banget mbahas ginian, hati-hati banget, karena ini menyangkut nama baik seseorang. Sebenarnya kita nggak pernah tahu apa yang sedang terjadi. Kita kadang suka menilai seseorang berdasar asumsi-asumsi. Ah, ini karena kita beruntung aja nggak ditunjukin Allah aib-aib kita di depan orang-orang itu. Jika aib berupa bau, yakin deh. Nggak akan ada yang mau deket-deket duduk deket kita. (Erhmmm, itu dari tweetnya Salim A. Fillah)  Jadi sebenernya kita itu beruntung, beruntung karena Allah bersedia menyembunyikan aib-aib kita.

Belum lagi dengan konsekuensi pahala kita yang kesedot…

Aib orang yang kita gunjingkan mungkin telah diampuni; sedang kita, mensedekahkan kebaikan -jika ada- & menadah dosanya. #NtMS   – @salimafillah

Nggak melibatkan perasaan pribadi, emosi-emosi, menjaga mulut untuk nggak nambah-nambahi informasi yang nggak penting dan nggak berhubungan dengan masalah yang terjadi adalah tips ketika terpaksa harus membahas perilaku Oknum X yang merugikan orang banyak.

Harusnya sih bisa dibedakan, mana yang benar harus diketahui oleh orang-orang tertentu, diambil pelajaran bareng-bareng, dan dicarikan solusinya yang sesuai, dengan, secara tidak sadar ingin membuat Oknum X semakin buruk namanya. Recheck niat juga harus terus dilakukan.

Hati-hati. Tohpun itu untuk kebaikan bersama.

“Dan janganlah di antara kamu menggunjing atas sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang telah mati? ..”

QS. Al-Hujurat:12

Pada nggak mau kan ya, seliliten daging bangkai saudara…