Titipan-titipan

Kuingatkan lagi ya.
Sebenarnya kita itu nggak pernah punya apa-apa. Semuanya titipan. Semuanya. Dari hal-hal remeh semacam bulpen, buku catatan, modem, kunci motor, kamera digital, sampai hape.
Namanya juga titipan, kalo diambil ya… Jangan marah dan sedih.

Yang dinilai itu sepertinya cara kita menjaga mereka. Menjaga agar tidak rusak, kotor, atau hilang. Mereka kan amanah dari yang memberikan. 

Seni ini yang belum terlalu aku kuasai. 

Ah, sebagai orang bergolongan darah A, aku merasa gagal… 

Membuka Kotak

Aku belum membukanya. Hanya mengintip.
Tunggu lima sampai sepuluh menit lagi, akan kuberitahu rasanya ketika aku terlelap disana.
Kamu tahu syaratnya untuk membuka kotak ini? Kamu harus diimun lagi. Setelah sebelumnya dioles alkohol dulu, biar kamu lupa rasa sakitnya, rasa digigit semutnya.
Yang kamu tahu nantinya hanya kamu menjadi sangat bersemangat dan ceria.
Dengan memegang kotak itu erat-erat, kamu berlari sambil menutup telinga dan menebalkan perasaan.

Ayo lakukan. Dengan nama Tuhanmu, ya.

!

Jangan mengeluh! Sebab mengeluh– apalagi pada sesama tak berdaya– adalah cara termudah untuk membuat kelam setitik jadi gelap semesta.

-Salim A. Fillah

Day 10 : Someone called herself Beruang Madu.

Aku ingat, Du. 17 bulan yang lalu, aku menemukanmu secara virtual. Tweetmu keren sekali, sungguh keren. Kalau tidak salah bunyinya:

“..kamu nggak tau aja, waktu kamu belajar, dia juga belajar. Waktu kamu tidur, dia terus belajar.”

Aku belum mengenal kamu. Sama sekali. Waktu itu kita sama-sama kelas 12 di sekolah yang berbeda. Seingatku dulu kamu selalu rangking 1 di setiap tryout di NF, aku mengingat namamu baik-baik. Anak ini pingin masuk universitas yang sama denganku, Insya Allah dia kelak akan menjadi temanku– pikirku saat itu.

Sekali lagi, aku sama sekali tidak mengenalmu. Sampai pada tanggal 3 Februari 2013, ada tryout akbar asui di smala. Kita sekelas, sebelahan bangku. Sebelum tryout dimulai, kamu– mungkin karena nganggur karena ditinggal teman-temanmu– mengajakku bicara dan berkenalan duluan, berbasa-basi. Kamu menyebutkan namamu. Eh, sebentar. Jangan-jangan dia itu dia! Kupastikan dengan bertanya nama lengkapmu.

Ah. Ternyata benar, akhirnya aku menemukanmu secara nyata. Akhirnya.

(for everyone : See, basa-basi is not always basi. for some people basa-basi values more than that. Pesanku, berbasa-basilah dengan baik mulai dari sekarang..)

Setelah mengenalmu secara resmi, aku jadi agak lebih termotivasi. Bahkan aku membuat tolak ukur dengan membandingkan nilai-nilaiku denganmu di tryout. Kesempatan untuk berteman denganmu rasanya jadi lebih nyata. Lebai ya? hehe. Aku hanya ingin sekali tahu rasanya berada di sekitar orang sepertimu. Aku mulai merancang rencana apa-apa aja yang harus kulakukan ketika sudah menjadi temanmu, membayangkan saja sudah senang sekali. Kita akan ngobrol banyak hal keren, tentang cita-cita yang sama, sampai diskusi hal-hal serius. Sepertinya menyenangkan.

Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana kan ya, Du? Singkat cerita, Aku disini, kamu disana.

Eh, kita bahkan tetap bertemu lewat yang lain ya? meskipun tidak pernah seintens berkomunikasi seperti yang aku rencanakan dulu. Terakhir itu waktu di nikahan mbak Asti 🙂

Sampai tadi kamu mention bilang, ‘aku merasa conv. kita lucu. Singkat-singkat, jarang, tapi selalu kutunggu,” aku jadi ge-er sekali.

Kamu salah Du, yang benar itu aku yang selalu menunggu untuk bisa berteman dan berbincang banyak denganmu : )))

Semoga tetap sehat dan sangar disana, dear Beruang Madu..

Para Pemberani

sepertinya aku mengenal kedua tipe pemberani itu…

Out of Cave

Ada orang-orang yang mewujudkan keberaniannya dengan menyatakan, mengkristalkan awan pikiran dan perasaannya menjadi nyata. Mereka mengungkapkan, membuka, seperti menyibak tirai kamar dan membiarkan sinar matahari menerangi apa-apa yang ada di dalamnya. Memperlihatkan seluruh isinya kepada seseorang.

“Lihat, inilah yang selama ini kusimpan dalam hati.”

Para pemberani ini menerima risiko penolakan, kekecewaan, dan malu. Ada pertaruhan. Ada keyakinan. Ada energi yang bisa jadi terbuang percuma. Walau begitu mereka percaya bahwa masa depan harus dirancang, mimpi harus diperjuangkan. Diperjuangkan.

Tapi itu bukanlah satu-satunya jalan hidup pemberani. Ada orang-orang lain yang mewujudkan keberaniannya dengan memilih untuk diam, menjaga rasa, memendam. Memendam, seperti saat memendam benih di dalam tanah. Bukan mengubur untuk membuang, bukan menyerah.

Pemberani jenis kedua ini berani melihat ke dalam dirinya, mengukur-ukur kemampuannya. Kemudian melihat ke samping, mencoba memahami orang yang ingin ia ajak berselancar-kehidupan. Juga ke depan, mengira-ngira rute yang tepat ke tujuan. Mereka berani mengakui bahwa.. dirinya masih bukan…

View original post 78 more words

Memilih

Banyak sekali pilihan akhir-akhir ini.

Susu ultra coklat dingin sudah jarang ada di indomaret dekat rumah, aku jadi harus terpaksa memilih susu coklat merk lain yang lebih mahal atau yang lebih murah tetapi tidak terlalu enak untuk diminum.

Seleksi bersama itu datang lagi tahun ini, dengan cepatnya. Padahal, aku seperti baru ospek minggu lalu. Dihadapkan dengan saran-saran orang, nyaris sama. Katanya, ini kesempatan kedua. Tuhan tahun lalu mungkin sedang menguji kesungguhanmu, sekarang saatnya buktikan, dan sejenisnya. Memilih lagi.

Kata artikel berita internet, umur 18 tahun adalah usia yang paling tepat  untuk memilih menjadi pengusaha atau karyawan di masa depan. 18 tahun? berarti waktuku tinggal sedikit sekali untuk memutuskan.

Atau yang sekarang. Memilih untuk bertahan di tempat yang kata orang keren setengah mati, atau pergi saja. Pergi ke tempat yang aman, yang kamu lumayan senang berada disitu karena tempatnya sangat simpatik. Enak sekali.

Sudah begini, ada pilihan lagi. Menjadi bagian dari pusat segala kata-kata asing seperti ‘perubahan, aksi, revolusi, dsb yang hanya kubaca dibuku dan cerita menggebu-nggebu dari mahasiswa yang lebih senior. Mendengar mereka, aku seperti menjadi seseorang yang hidup di tahun yang sama dengan Gie.

Aku mau belajar banyak, mendengar lebih banyak, mengetahui lebih banyak. Karena setiap pilihan punya konsekuensi ini dan itu. Semuanya ada pertanggungjawabannya. Biasanya pada banyak pihak, tentu saja– termasuk pada Allah.

…Teman perjalanan yang baik adalah mereka yang tidak hanya baik menurut pandangan matamu. Namun juga baik menurut pandangan mata setiap orang yang kalian temui di sepanjang perjalanan. Keberadaannya bersamamu membawa ketentraman dan kesejukan bagi orang lain. Yang engkau lakukan bersamanya membawa hikmah dan manfaat bagi orang lain.”  – Danang Ambar Prabowo

Pesanku, jangan endel. Jangan kemalan atau sok-sok mencari-cari alasan.

Lakukan saja, semoga Allah membersamaimu.