Day 26 : Sehabis Sharing

“Bener ya dek, di bawah terik matahari ini, kita janji bahwa mulai hari ini kita nggak akan nyontek di semua ulangan!”

“Hah? Errr…. enghm….. semuanya, Mbak? Ulangan subyektif juga?”

“Iya semuanya! ulangan harian, ulangan subyektif, enrichment, tryout. Semuanya!”

“err….” *glup*

“Biar Allah jadi saksinya.”

nah iku sing nggarai abot…. *menunduk ke tanah*

Janji? *menawarkan kelingking*

Aku sudah berjanji saat itu saat menyambut kelingkingnya. Tidak lain tidak bukan karena terpaksa dan aura intimidasi mbak itu sungguh menyergap puppy-eyes ku.

Dia juga dengan agak ‘licik’  mencantumkan kata-kata “Allah sebagai saksi” yang bikin aku jadi keder. Wah ini bukan perjanjian main-main.

Seingatku, mulai saat itu aku tidak pernah menyontek, bekerja sama dengan teman dan sebagainya di semua ujian maupun tugas-tugas. Lama-lama kepercayaan diri dan keyakinan itu timbul sendiri seiring dengan pemahaman tentang pentingnya menjaga kejujuran.

Ini adalah hal kecil yang pernah dilakukan seseorang yang sangat membawa pengaruh yang besar di hidupku.

*

Dia bilang di blognya  bahwa dia gagal bertahan di tempat kami pertama bertemu, dia nggak membawa perubahan, dia diwaspadai, dsb. Lewat cerita ini, aku ingin memberi tahunya bahwa dia sama sekali nggak gagal, sama sekali tidak. Senior kami dengan sangat baiknya mengingatkan kami. Hal ini juga yang akan terus aku ingat baik-baik:

Kadang memang nggak semua orang siap untuk menerima nasihatmu, mendengarmu, maupun bekerja bersamamu. Tapi biasanya  ketika kamu melakukan semua itu dengan tulus, ikhlas, tanpa tendensi duniawi, nggak ngarep apa-apa kecuali dari-Nya, akan ada minimal satu orang yang akan mendengarmu, memperhatikanmu. Ada, pasti ada.

Jika tidak, biasanya pengaruh itu akan timbul pada dirimu sendiri. Kamu menemukan dirimu lebih sabar, lebih sering ngecek niat, lebih sering muhasabah diri… Our prophet suffers a lot that time, much more than us.

Semoga dia dikuatkan. Aku tidak pernah menyesal bertemu dengannya.

#Misi Ladang Sangar

Suka membandingkan diri dengan orang lain yang lebih sukses, pintar, bijaksana, sholihah, lembut, dan keren itu baik atau tidak?

Ada dua pilihan jawaban dan dua-duanya sama-sama bisa diterima.

Baik, karena dengan memiliki role model belajar, kita akan terpacu dan bersemangat untuk melebihi si keren tadi, at least, menyamainya. Ada beberapa orang yang membutuhkan ini  untuk bisa bergerak dan melakukan hal-hal yang berguna. Dengan membandingkan, kita jadi tahu sudah sejauh mana kita, sudah segimana usaha kita untuk menjadi orang yang keren.

Tidak baik, karena ketika terlalu sibuk menyesuaikan kebiasaan luar biasa, kita jadi lupa rasanya menjadi diri sendiri. Kita lupa bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menjadi keren. Karena seperti yang kita pahami, setiap orang memiliki ladang sangar nya masing-masing. Jadi master di bidang itu.

Lalu kalau pertanyaanya aku nggak tau ladang sangarku… gimana?

Mungkin itu gunanya belajar. Cobain semua ladang, jangan terburu-buru menjudge membosankan, nggak seru, angel, atau nggak aku banget. Habis gitu, coba dikonsisteni, kalau setelah diajalani rasanya seru dan “eeengh!”, mungkin itu ladang sangarmu.

Dengan menyebut nama Allah, mungudh m/

Tentang Self-dialog dan Misi

Waktu ikutan School of Public Speaking yang diadain SKIPPER sama Indosat tempo hari, aku mencatat banyak sekali poin penting yang disampaikan Bapak Pembicara. Mostly menjawab tentang “Mengapa kita perlu jadi public speaker yang andal.”

Beliau bilang, untuk bisa tampil di depan banyak orang dan agar pesan kebaikan kita tersampaikan,  kita perlu melakukan self dialog. Dengan self-dialog itu kita akan bisa memahami diri kita lebih baik, memaafkan kelemahan diri dan berdamai dengan perasaan. Diharapkan, dengan hati yang plong, kita akan mampu men-deliver pesan kebaikan lewat lisan kita kepada audiens.

Self dialog nggak hanya baik dilakukan ketika akan menghadapi massa yang besar atau formal, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Aku sudah mencoba satu kali, sangat ampuh. Saat itu kondisinya aku sedang merasa, ehm, soro-dewean, mblayu dewean, pegel dewean.

Lalu aku membagi diriku menjadi dua bagian; pendengar dan pencerita (konsep seperti ini pernah disampaikan pula oleh Ninoi). Aku menjadi teman bagi diriku sendiri.

Setelah beberapa kali menulis pertanyaan tentang perasaan saat itu, aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang ternyata sangat dangkal dan emosional. Aku bisa menenangkannya. Aku ajak diriku berdialog dengan perasaan dan pikiran. Dan alhamdulillah berhasil.

It feels good, even until now.

Nah, untuk membuat produktif menulis, beberapa hari sekali aku berencana akan memposting tentang pertanyaan dari yang menarik sampai nggak penting, yang disana aku akan coba menjawab sendiri. Ohya, Kalian kalau mau juga bisa membantu menjawab pertanyaan itu dari sisi kalian.

😀

semoga misi ini nggak mutung dan bermanfaat, ya.

Amin.