Bocil dan Tulisannya

Aku punya teman, namanya Bocil. Sekelas dari kelas lima SD dan, alhamdulillah, sampai sekarang masih berteman baik. Dia adalah penulis favorit pertamaku.

Aku ingat dulu ketika masih SD, aku suka sekali membuka buku tulis-buku tulisnya. Dia suka secara acak menulis puisi pendek di ujung buku maupun halaman terakhir di buku-buku itu. Keren sekali. Puisinya macam-macam, tentang ibu, pohon di lapangan, sampai benda-benda langit. Dia juga suka design-design baju.

Bocil punya koleksi buku anak-anak banyak sekali. Buku-buku Lingkar Pena juga. Entah sejak kapan dimulai, kami jadi sering tuker-tukeran buku dan cerita-cerita huweboh tentang satu judul buku yang baru selesai kami baca. Aku senang berteman dengan Bocil. Waktu SMP, selain membaca buku-buku perpus (di perpus SMP Khadijah aku bertemu The Little Prince :”), kami juga baca teenlit  dan teracuni oleh pesan-pesan tersirat di buku-buku itu, seperti : Cepat bentuk genk~ ayo segera jatuh cinta dan tentukan kakak senior mahaganteng untuk disukai~

Selain itu, Bocil juga suka menulis tentang kelas kami. Kami selalu sekelas dengan orang-orang yang sama selama tiga tahun di SMP. Masa SMP kami sangat tidak terlupakan dan dia merangkumnya dalam cerita di blog pertamanya. Seru!

Dia juga sudah mulai menulis tentang emosi afeksi terhadap teman cowok, patah hati karena naksir bertepuk sebelah tangan, melihat cowok itu ngobrol seru dengan cewek yang lebih cantik, dan lain-lain. Aku dulu ingat sekali bagaimana dia menikmati patah hati nya dengan menulis. Tidak cheesy, tidak lebai, tetapi dalam sekali.

Waktu SMA, kami berpisah. Dia di SMA 16, aku di libels. Meskipun berjauhan, aku tetap memantau tulisan-tulisannya di blog. Blog baru yang lebih fresh katanya. Mungkin ini salahku, yang waktu SMA sudah bertemu mbak-mbak macam mbak Didi, mbak Denny, bergaul dengan Ismy dan Niswah –a jadi aku ehm, menentukan standar baru di hampir semuanya.

Saat mengamati… dan mengamati…. melihat bahwa Bocil ini telah berubah menjadi sangat– abege. Tulisannya lebih sentimenti dan membuatku amazed. She got her first boyfriend. Pernah di suatu hari dia cerita kalau naksir model SMP jauh lebih menyenangkan; melihat dari jauh, ketawa-ketiwi, nulis di diary, patah hati tanpa sebab yang nggak jelas.

Sedangkan SMA menuntutnya lebih: Segera jadian!

When you love someone, just be brave to say that you want him to be with you... Kata sebuah lagu favorit anak SMA.

Harus seperti itu. dan patah hatinya patah hati beneran. Naksirnya juga naksir beneran… Itu semua tercetak jelas di postingan dan puisi-puisi di blognya.

Sekarang? Bocil nggak asik, dia masih suka membaca sih, tapi sudah jarang berpuisi. Di blognya, dia mesti cerita tentang kehidupan sehari-hari. Aku merasa kehilangan. Kalau main ke kamarnya pasti tak ubrek-ubrek buku-bukunya, nemuin puisi-puisi khasnya yang tidak pernah ter-publish. Terus merasa ada bunga-bunga di perut. This girl is dangerously cool in writing!

Aku jadi ingat suatu percakapan pas SMA, pas main ke rumahnya.

“Cil, gak pingin jadi penulis tah?”

Dia mesem, “Nggak, ah.”

Aku jadinya paham. Menurutnya, menulis bisa dilakukan siapapun. Tidak perlu jadi profesi. Dia tetap bisa bikin karakter, alur, ending dan seterusnya. Yang terpenting tetap bisa menulis puisi kapanpun. Mungkin begitu pikirnya.

Halah, padahal aku pingin jadi pembeli buku pertamanya, dan ngasih endorsement. Sebagai….. mahasiswa dan pembaca :3

ini blognya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s