Narasi Paus

“… Binatang-binatang raksasa yang lembut ini selalu membuat semangatku bangkit. Aku yakin mereka memahami keadaanku. Kubayangkan saat melihatku salah satu dari mereka berseru,

‘Oh! itu mahluk korban kapal karam bersama kucingnya, seperti yang diceritakan Bamphoo padaku. Anak malang. Mudah-mudahan ia tidak kekurangan plankton. Aku mesti bercerita pada Mumphoo, Tomphoo, dan Stimphoo tentang dia. Apa tidak ada kapal yang bisa kuberitahu di dekat-dekat sini?  Ibunya kan senang sekali bertemu dengannya. Selamat tinggal, Nak.  Akan kucoba menolongmu. Namaku Pimphoo. 

Jadi melalu berita mulut ke mulut, setiap ikan paus tahu tentang aku…”

– Pi Patel dalam Life Of Pi. halaman 328. 

Narasi paus yang sangat bagus, Pi! Ini favoritku.

Advertisements
Narasi Paus

Anak SD Unyu

“Sudah-sudah. Nggak papa ya, jangan nangis lagi. Kamu sama aku kok.”

Kata anak perempuan SD berumur kira-kira 7 tahun, berambut tipis dan berbaju seragam longgar kepada temannya yang berkuncir tinggi dan habis menangis. Sepertinya mereka bersahabat.

Unyu sekali.

Aku waktu SD umur-umur 7 tahun, tidak pernah semanis itu kepada teman yang habis menangis. Tapi, memang pernah ada seorang teman yang bermanis-manis dan ingin menjadi sahabatku. Nembak gitu…  Tetapi aku ingat aku menolak dengan tegas. Aku menolak terikat bersahabat dengan siapapun waktu SD. Karena apa ya? Karena…. saat itu, menurutku sangat tabu untuk membicarakan apalagi meresmikan hubungan pertemanan. Aneh saja.

Waktu SD, aku bossy dan individual banget, tapi tetap punya banyak teman. I wonder, kenapa ya mereka mau berteman denganku? Mungkin karena mereka terpaksa karena tidak punya pilihan teman bermain, atau mereka… takut padaku? Secara aku kan tinggi melebihi siapapun di kelas waktu SD.

Iya, mungkin karena alasan itu…

Anak SD Unyu

Butuh

 Pernah ga, didekati seseorang hanya saat dibutuhkan? Pasti pernah banget dong. Atau sebaliknya, ketika kita sedang membutuhkan suatu bantuan dan akhirnya berujung pada seseorang yang bisa membantu kita (dan sesungguhnya orang itu hampir punah dalam ingatan kita), kita pun dengan sungkan meminta bantuannya. Pada kondisi ini, yang terjadi adalah interaksi ego antara si peminta bantuan dan si pemberi bantuan.

Si peminta bantuan harus menekan rasa sungkannya karena sudah lama tidak berinteraksi (apalagi sebelumnya tidak kenal dekat) dengan rasa keterbutuhan terhadap si pemberi bantuan. Sedangkan si pemberi bantuan harus menekan ego untuk dibutuhkan (dan dilupakan) dengan norma tolong-menolong yang berlaku di masyarakat. Kalau keduanya sama-sama tidak bisa menekan egonya, maka tidak terjadi bantuan yang diharapkan. Si peminta bantuan tidak mau meminta bantuan, si pemberi bantuan tidak tahu kalau dia diharapkan bantuannya. Bagaimana kalau salah satu saja yang tidak bisa menekan egonya? Tetap tidak bisa berjalan. Jika ego peminta bantuan tidak bisa ditekan, maka seperti kasus sebelumnya. Kalau ego pemberi bantuan tidak bisa ditekan, maka meskipun si peminta bantuan memelas-melas, tetap ia tidak akan terbantu.

Maka agar bantuan itu terjadi, kedua belah pihak harus menekan egonya masing-masing. Si peminta bantuan harus introspeksi diri bahwa hal yang dilakukan selama ini terhadap si pemberi bantuan adalah salah. Menjaga silaturahmi adalah suatu keharusan. Ali bin Abi Thalib berkata, “Manusia yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu mencari teman. Namun yang lebih lemah dari itu adalah orang yang mendapatkan banyak teman tetapi menyia-nyiakannya.” Karena manusia itu bukan benda yang bisa dilupakan seenaknya, tetapi memiliki hati yang harus dijaga interaksinya. Sedangkan dari sisi pemberi bantuan, janganlah melihat bahwa si peminta bantuan hanya baru datang ketika dia ada maunya. Tetapi lihatlah bahwa dirinya seperti cahaya, yang selalu dibutuhkan ketika orang lain berada dalam kegelapan, dalam kesulitan. Jika ego masing-masing bisa ditekan, maka tolong-menolong dari siapapun untuk siapapun akan terus terjadi. Dengan inilah kebaikan di dunia akan terus abadi.

-Yunus Kuntawi Aji.

Butuh

Bocil dan Tulisannya

Aku punya teman, namanya Bocil. Sekelas dari kelas lima SD dan, alhamdulillah, sampai sekarang masih berteman baik. Dia adalah penulis favorit pertamaku.

Aku ingat dulu ketika masih SD, aku suka sekali membuka buku tulis-buku tulisnya. Dia suka secara acak menulis puisi pendek di ujung buku maupun halaman terakhir di buku-buku itu. Keren sekali. Puisinya macam-macam, tentang ibu, pohon di lapangan, sampai benda-benda langit. Dia juga suka design-design baju.

Bocil punya koleksi buku anak-anak banyak sekali. Buku-buku Lingkar Pena juga. Entah sejak kapan dimulai, kami jadi sering tuker-tukeran buku dan cerita-cerita huweboh tentang satu judul buku yang baru selesai kami baca. Aku senang berteman dengan Bocil. Waktu SMP, selain membaca buku-buku perpus (di perpus SMP Khadijah aku bertemu The Little Prince :”), kami juga baca teenlit  dan teracuni oleh pesan-pesan tersirat di buku-buku itu, seperti : Cepat bentuk genk~ ayo segera jatuh cinta dan tentukan kakak senior mahaganteng untuk disukai~

Selain itu, Bocil juga suka menulis tentang kelas kami. Kami selalu sekelas dengan orang-orang yang sama selama tiga tahun di SMP. Masa SMP kami sangat tidak terlupakan dan dia merangkumnya dalam cerita di blog pertamanya. Seru!

Dia juga sudah mulai menulis tentang emosi afeksi terhadap teman cowok, patah hati karena naksir bertepuk sebelah tangan, melihat cowok itu ngobrol seru dengan cewek yang lebih cantik, dan lain-lain. Aku dulu ingat sekali bagaimana dia menikmati patah hati nya dengan menulis. Tidak cheesy, tidak lebai, tetapi dalam sekali.

Waktu SMA, kami berpisah. Dia di SMA 16, aku di libels. Meskipun berjauhan, aku tetap memantau tulisan-tulisannya di blog. Blog baru yang lebih fresh katanya. Mungkin ini salahku, yang waktu SMA sudah bertemu mbak-mbak macam mbak Didi, mbak Denny, bergaul dengan Ismy dan Niswah –a jadi aku ehm, menentukan standar baru di hampir semuanya.

Saat mengamati… dan mengamati…. melihat bahwa Bocil ini telah berubah menjadi sangat– abege. Tulisannya lebih sentimenti dan membuatku amazed. She got her first boyfriend. Pernah di suatu hari dia cerita kalau naksir model SMP jauh lebih menyenangkan; melihat dari jauh, ketawa-ketiwi, nulis di diary, patah hati tanpa sebab yang nggak jelas.

Sedangkan SMA menuntutnya lebih: Segera jadian!

When you love someone, just be brave to say that you want him to be with you... Kata sebuah lagu favorit anak SMA.

Harus seperti itu. dan patah hatinya patah hati beneran. Naksirnya juga naksir beneran… Itu semua tercetak jelas di postingan dan puisi-puisi di blognya.

Sekarang? Bocil nggak asik, dia masih suka membaca sih, tapi sudah jarang berpuisi. Di blognya, dia mesti cerita tentang kehidupan sehari-hari. Aku merasa kehilangan. Kalau main ke kamarnya pasti tak ubrek-ubrek buku-bukunya, nemuin puisi-puisi khasnya yang tidak pernah ter-publish. Terus merasa ada bunga-bunga di perut. This girl is dangerously cool in writing!

Aku jadi ingat suatu percakapan pas SMA, pas main ke rumahnya.

“Cil, gak pingin jadi penulis tah?”

Dia mesem, “Nggak, ah.”

Aku jadinya paham. Menurutnya, menulis bisa dilakukan siapapun. Tidak perlu jadi profesi. Dia tetap bisa bikin karakter, alur, ending dan seterusnya. Yang terpenting tetap bisa menulis puisi kapanpun. Mungkin begitu pikirnya.

Halah, padahal aku pingin jadi pembeli buku pertamanya, dan ngasih endorsement. Sebagai….. mahasiswa dan pembaca :3

ini blognya

Bocil dan Tulisannya

Pidato Pertemuan Kita

Ini sudah hampir pagi
Mataku masih awas menyusun pidato pertemuan kita.
Bagaimana seharusnya menyambutmu?

Aku waswas sendiri dengan percakapan kita esok. Aku khawatir kau akan menanyakanku tentang tabungan kupu-kupuku atau tentang hubunganku dengan Musim Gugur yang memburuk.
Iya, si Musim Gugur masih sok misterius begitu, padahal aku sudah baik dengan menawarinya bermain tetris.
Bagaimana lagi kalau kau bertanya tentang perasaanku?
Mungkin aku akan pura-pura tidak medengar dan akan menjawabnya dengan bahasa Swahili. Supaya kau tidak menangkap maksudku sebenarnya.
Ah! aku lupa kau adalah pembaca gerak-gerik dan mimik muka yang ulung…

Aduh, aku pusing.

Pidato Pertemuan Kita