Chatting dengan YM – Edisi Pepeng

Jumat, 2 November 2012. One of the best episode :’

Advertisements
Video

Palestina, Bagaimana Aku Bisa Melupakanmu?

Ketika     rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer 
dengan suara gemuruh menderu, serasa pasir 
dan batu bata dinding kamartidurku bertebaran 
di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan 
mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika     luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan
apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan lalu di
Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari kantor
agraria, serasa kebun kelapa dan pohon mang-
gaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas 
mereka.

Ketika     kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai
kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu-
sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening
kita semua, serasa runtuh lantai papan surau
tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an
40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan
yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini
ditetesi
air
mataku.

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Ketika     anak-anak kecil di Gaza belasan tahun  bilangan
umur mereka, menjawab laras baja dengan tim-
pukan batu cuma, lalu dipatahi pergelangan
tangan dan lengannya, siapakah yang tak 
menjerit serasa anak-anak kami Indonesia jua yang
dizalimi mereka – tapi saksikan tulang muda
mereka yang patah akan bertaut dan mengulur
kan rantai amat panjangnya, pembelit leher
lawan mereka, penyeret tubuh si zalim ke neraka.

Ketika     kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-
Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim
Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang diba-
cakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami
semua berdegup dua kali lebih gencar lalu ter-
sayat oleh sembilu bambu deritamu, darah kami
pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan
kaligrafi

‘Allahu Akbar!’
dan 
‘Bebaskan Palestina!’

Ketika    pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi
dusta, menebarkannya ke media cetak dan 
elektronika, mengoyaki tenda-tenda pengungsi
di padang pasir belantara, membangkangit reso-
lusi-resolusi majelis terhormat di dunia, mem-
bantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser
Arafat dan semua pejuang negeri anda, aku pun
berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at
sedunia: doakan kolektif dengan kuat seluruh
dan setiap pejuang yang menapak jalanNya, 
yang ditembaki dan kini dalam penjara, lalu
dengan kukuh kita bacalah
‘laquwwatta illa bi-Llah!’

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.

1989

 

Taufiq Ismail 

 

 

Palestina, Bagaimana Aku Bisa Melupakanmu?

Karpet Bunga Angsana

Beberapa minggu lalu, aku senang sekali kalau mengerjakan tugas di rumah teman, alias Ninoi Si Tampan. Bukan karena dikasih makan atau timo-nya, tetapi karena aku begitu menikmati perjalanan berangkat dan pulang ke rumahnya. Rumah Ninoi, dari kampus harus melewai jalan pintas di Ngagel.

Lewat situlah aku merasa motorku melambat dan… ya, waktu juga melambat.

Di sepanjang jalannya, pohon Angsana gagah berdiri tiap lima meter. Berjajar seperti prajurit, teduh dan menyejukkan. Mereka gagah sekaligus cantik. Gagah dan berbando bunga-bunga kuning, bunga-bunga kuning itu sedang gugur. bergerak bersama angin dan mendarat dengan anggun di jalan raya. Menyambut musim hujan yang belum juga datang.

Ditambah angin yang menggerakkan bunga-bunga, membuatku senyum-senyum, menikmati swiiing~ di hati dan bersyukur.

mereka juga sedang menunggu hujan  :’)

Sebenarnya aku punya banyak sekali foto mereka, tidak hanya di jalan Ngagel, di rungkut Sier (eehmmhhhh yang ini malah bikin sesek napas juga saking………………….. cantiknya), di jalan Gubeng juga ada. Tetapi… tetapi… memori-card ku rusak dan beberapa file hilang. Termasuk mereka. Ah, maaf belum bisa membagi foto mereka disini…

Bunga Angsana yang gugur dan memenuhi jalanan juga ada di depan FIB. Mereka bahkan lebih dinamis bergerak di udara. seperti bermain roller coaster. Hanya saja kadang suka terganggu dengan banyaknya motor dan mobil yang lewat.

Melihatnya ketika berangkat kuliah juga selalu bisa bikin kyaaakyaaa di hati. Menahan untuk tidak berteriak ketika melihat jalanan masih kosong dari kendaraan. Keren sekali. Subhanallah..

Memang benar, bahagia itu sederhana.

Karpet Bunga Angsana

Senja hari Senin

Selamat malam, Senja yang sudah lama tidak aku cecap hangatnya…

Ehm. Aku harus memberi tahu kamu berita mahapenting hari ini….

….

DIA-TERSENYUM! tersenyum lebar sekali sampai matanya jadi terlihat sipit ketika menyambutku di ujung jalan. Melambaikan tangan. Kesini! katanya.

Dia tidak pernah tersenyum selebar itu sebelumnya. Aduh, kalau seperti ini aku jadi ingin berlari, melupakan keseleo kaki dan memeluknya.

Aku selalu ingin melihatnya di ujung jalan. Menahan peluh, bersileut bayanganmu, senja, menungguku.

Keren sekali perasaan ini. Ditunggu. Rasanya ingin segera kembali pulang, meskipun sedang berada di paling ujung pegunungan paling barat Eropa, atau dari apa saja yang paling jauh di bumi ini.

Karena ia punya senyum yang menyenangkan, berbentuk hati, lalu seperti tiba-tiba ada alunan suara krincingan kunci motor yang lewat-lewat di telingaku, ada Assalamu’alaikum~ khasnya juga… Ish, merdu sekali.

Andai setiap hari…

Senja hari Senin