Menjadi Besar

Lelah sekali menjadi besar.
Tidak boleh menamai motor kesayangan karena dianggap kekanak-kanakan.
“Inget umuuurr!” katanya sambil tertawa. Padahal aku susah payah mencari nama yang lucu untuk motorku.

Lelah sekali menjadi besar. Mereka akan mempertanyakan caramu berpakaian. Kenapa bgini bgitu? Kenapa nggak kayak si anu si itu?

Lelah sekali menjadi besar.
Kamu harus menahan tangis sampai hidungmu perih ketika makanan yang jarang kamu makan seperti tamie, tiba-tiba dibuang ke tempat sampah.
Waktu kamu bilang, “Lho, itu kan punyaku..”
Kakakmu denganmu wajah tanpa menyesal bilang, “Waduh… Aku lupa..”

Kamu tidak boleh menangis. Apalagi menceples pantatnya sekuat tenaga.
Itu kekanakan sekali.

Kamu sudah besar! Kata pikiranmu.

Terlanjur menangis. Tapi menyesal. ‘Harusnya kamu bisa lebih dewasa. Air matamu tidak boleh jatuh hanya krn hal-hal remeh seperti ini! Hapus!”
Kata pikiranku.
Aku sudah menemukan kalimat untuk mendebatnya.
Tapi tidak jadi.

Dia benar.

Advertisements
Menjadi Besar

4 thoughts on “Menjadi Besar

    1. Hehehe nggak ya? :))
      orang-orang di sekitar kita banyak dan beda-beda banget. susah juga kalo kudu ngelakuin apa yang mereka pingin denger atau lihat.
      poinnya disini, jadi diri sendiri, gitu ya? hehehe. aku sedang belajar :3

      1. “susah juga kalo kudu ngelakuin apa yang mereka pingin denger atau lihat.”
        nezha… ketika kamu berusaha untuk bersikap seperti apa yang dikehendaki orang lain, kamu nggak akan pernah sampai ke sana, karena manusia nggak pernah puas. but, yeah you got the point: be yourself. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s