Kost

“Sumpah yooo… Jangan sekali-sekali berkeinginan ngekos. Gak Uenak.” curhat Fina, di suatu pagi, dateng ke kampus dengan wajah yang sedikit mess. Ho, dia belum sempet sarapan dan duitnya habis.

Kemarin, adalah kali kedua aku main-main ke kost-an orang. Kali ini yang beruntung adalah Vita. Vita adalah teman baru asal Banyuwangi yang bersedia kostan-nya tak jamah.

“Berantakan! maaf yaa!”

Bohong. Kamar kost nya rapi dan bersih. (jika dibandingkan dengan kamar kostan temen pertama yang kukunjungi. benar-benar, mirip… –maaf, gu..gu…gudang yang ada lampu terang dan kasurnya…)

Sambil bobok-bobok, aku melihat sekeliling kamar, bertanya pertanyaan seputar ‘sebulan berapa?’ sampai ‘kalo malem serem nggak?’

‘Aku kadang telpon-telponan sama ibuku di Banyuwangi, adik-adikku juga suka rebutan pingin ngomong.’ dia cerita sambil senyum penuh makna. “Pas jaman awal ospek aku sewering homesick.. Rindu rumah di tengah kesibukan yang tidak menyenangkan itu gak wenak.’ lanjutnya.

‘Semacam duduk diam di kasur, trus tiba-tiba nangis gitu ya?”

‘Ya… kayak gitu.’

Pas si Vita keluar kamar, aku diem lagi, nglurusin kaki. Tiba-tiba galau di kamar kost orang. Ah. Jadi kira-kira seperti itu rasanya rindu kampung halaman.

Ngekos setahun lalu adalah cita-citaku. Membayangkan melakukan semuanya sendiri rasanya menyenangkan. Nyuci baju sendiri, ribet pagi hari karena nyari kaus kaki bersih (kalo ini di rumah juga sering, tapi kalo ngekos kan beda), mikir “ntar malem makan apa ya?’, mikir beribu-ribu kali kalau mau beli kentang goreng harga 7000, telpon-telponan sama ayah-ibu. Seru kan~

Hmm. Mungkin tidak tahun ini.

Jadi inget cerita ayah di H+2 pengumuman SNMPTN.

Alhamdulillah.. ayah seneng kamu keterima di UNAIR. Nanti kan sedih kalo kangen sama anak-anak… mbak Erma di Bitung, mbak Dina di bandung.

Kamu sama Mas Arif…. udah disini aja nemenin ayah ibu.

Mungkin ini jadi salah satu hikmahnya.

Alhamdulillah.

Advertisements
Kost

Very nice summary,,..

Out of Cave.

Curhat sedikit: aku sedih.

Cukup sering aku mendengar komentar orang, baik teman maupun asing, yang kurang lebih berkata begini, “Aku beragama, tapi ya yang biasa aja, nggak yang berlebihan kayak mereka.”

‘Mereka’ di sini biasanya merujuk pada orang-orang tertentu yang dipandang ‘religius banget’. Bagi yang muslim, mereka biasanya dilabeli sebagai ‘anak rohis’, ‘anak ski’, atau ‘anak masjid’. ‘Berlebihan’ sering juga digantikan dengan kata ‘lebay’ yang konotasinya lebih negatif.

Apalagi kalau komentar itu ditambahi justifikasi begini, “Kan yang berlebihan itu nggak baik!” Duh, sedihnya lipat-lipat deh.

Aku ingin menitikberatkan pembahasan pada kata-kata yang kucetak miring.

Pertama, sebenarnya apa sih ‘beragama secara biasa aja’ itu? Apa juga maksudnya ‘beragama secara berlebihan’?

Bagiku sederhana saja. Kita harus tahu dulu ‘beragama’ itu seperti apa, dan standar-standarnya bagaimana. Barulah kita bisa menentukan apa yang ‘biasa aja’ dan apa yang ‘berlebihan’. Ini seperti kalau kita mau mencuci dengan deterjen. Kita harus baca petunjuknya dulu lah…

View original post 198 more words

reblogged~ :3

Out of Cave.

Oh dear, jika dua orang memang benar2 saling menyukai satu sama lain. Itu bukan berarti mereka harus bersama saat ini juga. Tunggulah di waktu yang tepat, saat semua memang sudah siap, maka kebersamaan itu bisa jadi ‘hadiah’ yg hebat utk orang2 yg bersabar.

Sementara kalau waktunya belum tiba, sibukkanlah diri utk terus menjadi lebih baik, bukan dengan melanggar banyak larangan. Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar, atau semakin memudar.

oleh Tere Liye, via Facebook.

Tere Liye selalu punya status yang bagus di facebook, dan yang menyukainya biasanya sampai ratusan. Ah, aku rasa lebih bagus lagi kalau Tere Liye membuat tumblr atau blog.

View original post

Alasan-Alasan

Aku sedang mencari seribu alasan untuk mencintaimu. Dari mana saja.

Dari gedung yang kuno, dari aspal parkiran yang nggak rata dan bikin pantat sakit kalo nggak awas, dari teh krimer yang segar harga 5000, dari auditorium yang mengingatkanku akan suatu tempat rapat seperti Kongres Pemuda yang pertama, dari orang-orang fakultas serupa Sujiwo Tedjo sampai Rangga AADC mondar-mandir, dari jalanan yang selalu kotor oleh daun warna coklat…

Aku sedang mencari seribu alasan untuk mencintaimu.

Seberapa membosankannya Prof-prof berceramah, aku akan tetap mendengarkan dengan seksama, tidak mau melewatkan barang sekalimatpun. Karena dari kalimat itu, bisa saja membuatku jatuh cinta. Aku akan jatuh cinta dengan Prof. Anu dan suatu saat nanti akan mewawancarainya. Ketua BEM yang berjaket warna asing juga akan kucobai jatuh cinta. Aku menyanyi Hymne sambil menutup mata kuat-kuat, sambil menunggu perasaan wiiing~ yang akan lewat di hati, lalu dengan itu aku jatuh cinta.

Aku akan tetap melakukan rencana-rencana ospek yang dulu kutulis sambil menangis.

Dan aku akan terus mencari seribu alasan lainnya.

Image

Alasan-Alasan