Hai.

Remembering you is fun. I close my eyes, feel like riding a horse in corrousel. Bit dizzy but.. Fun.
The way you laugh can heal one’s ill.
Seeing you laugh, awkwardly makes me laugh too.
Hope you are happy with those balloons. Hope they could bring you to the sky. Give my respect for Mr. Cumulus cloud and Miss Moon.
You’re cool with that stuffs. I’ve told you, eh?

Advertisements
Hai.

Menunggu

Suatu hari nanti, kamu akan menunggu. Waktunya.. Bisa lama, bisa sebentar.
Maaf, tetapi kamu menunggu dengan kondisi yang sangat
berbeda, tidak seperti disini; sambil makan kripik, twitteran atau haha hihi.
Kamu akan sepenuhnya sendiri. Tanpa siapapun. Hanya kamu.. Dan amal yang sempat kamu kumpulkan saat mampir di dunia. Ruangan lembab dan sempit, cacing tanah, gelap.
Ah.. tidak-tidak. Semoga tempat tunggumu adalah tempat tunggu ternyaman yang pernah kau rasa. Luas sejauh mata memandang dan begitu terang yang membuatmu merasa lapang.
Semoga waktu menunggumu akan terasa sekejap. Seperti ketiduran. Lalu dibangunkan.
Kemudian kamu menyadari bahwa hari itu telah datang. Hari dimana dibangkitkannya manusia.
Sungguh Allah tak pernah mengingkari janji-Nya.

Kamu, semoga kamu tidak sempat merasakan kerisauan, ketegangan, dan ketakutan ketika menunggu giliran dipanggil. Tidak merasakan panas, tidak tenggelam di keringat sendiri. Semoga tidak.

Kau tidak risau.
Karena yang kau pikirkan hanya satu.. bertemu secara langsung dengan Rasulullah.. Para sahabat.. Dan.. Maha Raja Rabb semesta Alam.

Memikirkanya saja membuat jantungmu meloncat-loncat gembira.

Menunggu

Mengharumkan

“Kenapa kamu pingin masuk OSIS?”

“Karena.. saya berbeda. saya tidak hanya ingin menjadi berprestasi dalam akademik, tetapi juga berprestasi dalam softskill organisasi. selain itu.. saya juga ingin mengharumkan nama libels dengan kegiatan yang akan dikenal luas oleh masyarakat.

Suatu siang.

Ah, berbudi sekali.

Sepertinya bilang begitu setelah tanya sama Si Mas. Karena merasa keren aja. Saat itu nggak kepikiran akan berprestasi beneran. Apalagi mengharumkan. Mengharumkan? Ppfftt.

Ehm. Apa kabar, Bels?

Mengharumkan

Buat Si Setia

Pohon merunduk lagi, pura-pura tidak melihat aku menyumpahnyerapahimu. Kamu tau? Capek sekali seperti ini. Kubilang kamu si setia yang berkhianat. Ergh.

Kecil sekali melihatmu sekarang. Kamu.. suka sekali mempermainkan perasaan gadis-gadis kecil. Kenapa kamu bilang boneka berbaju eropa  itu lucu? Tidak. Mereka menyeramkan. Susah memeluk boneka seperti itu dengan nyaman.

Kamu suka sekali mempermainkan hati para ibu. Mereka berdoa dengan mata terpejam, kadang menangis. Kamu bilang pada mereka : ‘kalau anda yakin, doa anda pasti dikabulkan, wahai para ibu’

Harusnya kamu menambahi, ‘sekali-kali, pilihlah pilihan yang paling buruk, kadang pilihan yang paling buruk itu yang akan membuatmu cantik.’ Biar para Ibu bisa bersiap-siap  dari awal mencari pilihan-pilihan.

Eh, tapi kamu diam saja. Maksudnya apa?

Kenapa.. kamu susah sekali untuk dipahami? Kenapa sulit sekali menemukan kebaikan di matamu. Mataku yang buram karena belek atau kau yang memang terlahir jahat?

Kamu tahu, sekarang aku bersusah payah mengumpulkan keberanian. Menatap takut pada gadis-gadis kecil dan para ibu, bertanggung jawab atas semua yang kau lakukan. Setelah mereka berhasil menangkap mataku, mereka tersenyum menyeramkan. Seram sekali. Aku takut. Sepertinya harus berbicara sambil memejamkan mata—semoga itu sopan.

Kamu.. kenapa masih diam? Kupu-kupu dalam perutku sudah berubah jadi  dinamit dan petasan. Berisik sekali dan ingin meledak. Aku sedang mencoba mantra transformasi yang kupelajari dari sebuah buku. Aku ingin merubahnya menjadi  sesuatu yang lebih kalem dan enak didengar. Seperti  suara putu atau kunyahan kelepon.

Karena yang paling menyedihkan dari semua ini adalah: aku harus berdamai denganmu.

Buat Si Setia