Fiksi Yang Itu

Aku diajak lomba nulis. Untuk pertama kalinya selama 18 tahun hidup dan menyadari betapa nggak produktifnya hidup (ku)….

Meskipun lombanya juga bukan se-Jawa-Bali atau lebih tinggi, aku tetep kepingin ikutan. Lomba itu diadain sama penulis muda kakak sahabat saya Bocil, mbak Atiqah. Hadiahnya pun ‘cuma’ buku karangannya yang akan dikirim secara gratis ke alamat rumah. Okei. Coba saja.

Setelah mbaca ketentuan lomba, aku sedikit bingung. Bikin cerita mini atau flash fiction. Temanya itu tentang… Asem Manis Cinta.

Ottokae.

Aku sudah lupa gimana rasanya nulis fiksi. Terakhir… beberapa bulan lalu di tugas Bahasa Indonesia, mbikin cerpen. Mengerjakannya pun pas hari harus dikumpulin. Sehabis solat subuh sambil terburu-buru.

Dan.. ditambah temanya Asem Manis Cinta.

Aku juga lupa rasanya bikin cerita fiksi tema cinta yang itu. Yang cowok-cewek. Terakhir bikin fiksi cinta yang itu, lumayan membanggakan. 70 halaman di umur 14 tahun. Aku menyebutnya novel. -_-

Yang aku ingat, waktu itu aku semangat sekali menulis karena aku sedang benar-benar merasakannya. Aku naksir kakak kelas yang ganteng dan suka main bola, jutek, dan cool. Dia populer, aku enggak. Aku merasakan gimana senengnya ketika dia selebrasi habis nge-golin, kecewa pas nggak ketemu dalam sehari dan lain-lain. Nah, di novel itu juga menceritakan seperti itu. Macam komik serial cantik – – lalu filenya hilang karena virus.

Sekarang, sudah selesai SMA, disuruh nulis lagi yang model begitu, aku jadi bingung. Mau ngasih cerita apa? Nggak ada ide. Dari curcol temen-temen? lagu galau? … apa –? Selama ini kalau mbaca tweet-tweet gombal, atau ketika penulis populer nulis di salah satu bagian novelnya tentang cinta yang itu, aku ‘hanya’ mengagumi keindahan dia bercerita. Indah di tulisan saja. Nggak terinspirasi.

Atau… Mungkin aku yang kurang peka. Padahal kalau mau nulis fiksi itu harus peka. Huft.

Oke. Putar otakk.

Cerita naksir diam-diam itu sudah biasa. Putus cinta.. juga. Naksir sesama jenis? 0_0 bisa juga, tapi rasanya terlalu hardcore untuk lomba imut seperti ini, dan aku belum berwawasan.

Gimana kalau tentang… Aku lupa rasanya jatuh cinta yang itu.

Yawes iku ae.

Advertisements
Fiksi Yang Itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s