Berpikirlah

Tulisan ini dibuat oleh salah satu pengisi kajian di acara Remas Masjid Baiturrohim, Mas Redza Kusuma, sekitar dua tahun lalu.

Berpikirlah tentang segala hal yang hidup, tentang semua hal yang membuatmu hidup dan menghidupimu. Berpikirlah sejak bangun tidur. Tentang siklus penciptaan dan daur ulang kehidupan, tentang kematian yang tiba-tiba, tentang agama yang harus ditegakkan, tentang cita-cita yang jauh memanjang, tentang harapan yang kian membesar akan pokok-pokok keberhasilan.

Berpikirlah, berpikirlah dari keberanjakan rasa malas dan manja, bahwa hidup haruslah bermakna. Berhentilah menggurui zaman dan usia bahwa diri ini masihlah sibuk menerka dan mencari-cari jati diri. Semua telah jelas dan lugas; kita tercipta untuk mengabdi dan mengelola planet ini. Tidak ada konsep seterang dan sesederhana ini, maka berhentilah menjadi pembenar bagi ketidaktahuan dan keengganan untuk mengetahui karena matinya nurani ini.

Berpikirlah, berpikirlah ketika hendak tidur, tentang konsekuensi kerja-kerja amal hari ini. Tentang jatah umur yang makin berkurang, tentang lambung tetangga yang mengerang kelaparan, tentang kulit kaum miskin yang menggigil kedinginan. Berpikirlah, dan sungguh pakai fitrahmu untuk berpikir, meski untuk satu hari ini.

Berpikirlah, berpikirlah tentang cahaya hati, tentang kepekaan mengenali bangsa sendiri. Tatkala mata terpesona oleh ledakan kembang api tahun baru, tatkala sorak-sorai kegembiraan berbaur dengan tangisan dhuafa yg mengejar belas kasihan. Juga tentang rasa malu, yang menghambat laju kemubadziran dalam pesta pora bergemerlapan, seolah merayakan matinya kemanusiaan. Terkapar, teronggok di tepi perempatan jalan dan kolong-kolong jembatan.

Berpikirlah, berpikirlah segala hal yang mengajakmu bermesraan dengan dunia, bercumbu dan berzina dalam metafora yang tak nyata. Bahwa sebukit emas tak sebanding dengan serokaat shubuh. Bahwa empat hal akan ditanya, ketika ruh menghadap Pengadilan Sang Maha Raja. Tentang harta, darimana dia dapatkan dan dikeluarkan. Tentang ilmu, kemana ia tularkan. Tentang semua karunia tubuh, untuk apa dia berdayakan. Dan tentang masa muda, kemana esensinya dimanfaatkan. Pada waktu itu, apa engkau sempat berpikir untuk memberikan jawaban yang memuaskan?

Berpikirlah, berpikirlah bahwa hati ini kian hari kian hitam dan mengeras. Dosa-dosa kelewat kecil yang menjejak tanpa rasa bersalah, dan dosa-dosa besar yang kelewat kepalang ditutupi oleh sikap masa bodoh. Berpikirlah, dan sesungguhnya agama ini hanya dapat diambil saripatinya oleh orang-orang yang mau berpikir.

Berpikirlah, detik ini, sepanjang hidupmu, bahwa diri ini haruslah siap berubah. Siap berkompetisi melawan kebathilan, menceroboh kemunafikan, dan melibas kedustaan. Berpikirlah, berpikir lalu bergeraklah.

Karena disitulah substansi kemanusiaanmu yang paling penting.

Piye kabare, Mas Redza. Terima kasih sudah mau membagi hikmah di Masjid Baiturrohim 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Berpikirlah

  1. Ica July 12, 2012 / 1:09 PM

    Ini…..keren. Sungguh, tanda-tanda kebesaran Allah adalah untuk mereka yang berpikir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s