Delapan Alasan Berjilbab

SITUASI

Gita : anak SMA yang ragu berjilbab (clarina. red).

Tika : temen Gita yang udah berjilbab (bisa nejong, bisa farida. nejong ae. red)

Mbak Nadia : Salah satu pembicara. Cantik dan pintar.

Mereka ada di seminar umum generasi muda Islam yang diadakan UI.

(Err… UI….)

Diambil dari cuplikan novel Ketika Mas Gagah Pergi (dan Kembali) karya Helvy Tiana Rosa. Hal.15-18

—–

“Assalamualaikum, saya Gita, masih SMA. Mau nanya nih, gimana sih hukumnya jilbab? kan sunnah ya?” tanyaku sambil sok menjawab sendiri.

Hadirin kasak-kusuk.

“Ih, kok tanya itu lagi. Kan udah aku kasih tau itu wajib,” sela Tika setengah berbisik.

Aku tak peduli. “Ya, setahu saya sih gitu. Ada banyak teman saya masuk pesantren. Di sana mereka pake jilbab, tapi pas keluar ya mereka lepas lah, malah ada yang jadi rocker/”

Gerrr.. hadirin tertawa. Tika menatapku sambil geleng-geleng kepala.

Aku bingung tapi tetap semangat. “Kayak saya nih. Saya mau pake jilbab, tapi ya ntar, nunggu udah nikah, udah tua atau pensiun. Lagian yang penting kan kita bisa jilbabin hati, ya nggak? Buat apa pakai jilbab kalau nggak bisa jilbabin hati. Mendingan gak dong!”

Hadirin riuh rendah, bertepuk tangan.

Moderator garuk-garuk kepala, persis Tika, di sampingku. “Oke, pertanyaan ditampung.”

Saat moderator meminta pembicara menanggapi, Mbak Nadia tersenyum, “Sahabat sekalian, sebagai seorang muslimah, sedikitnya saya punya delapan alasan mengapa saya memakai jilbab.”

Aku menatap Mbak Nadia yang tampak lebih cantik dengan jilbab ungunya.

“Mengapa saya mengenakan jilbab? Alasan pertama karena berjilbab adalah perintah Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 31. Kedua, karena jilbab merupaka identitas utama untuk dikenali sebagai muslimah. Astri Ivo, seorang artis, justru mulai mengenakan jilbab saat kuliah di Jerman. Saya, Alhamdulillah mulai mengenakannya saat kuliah di  Amerika.”

“Wuiihh…” hadirin berdecak kagum.

Alasan ketuga saya mengenakan jilbab, karena dengan berjilbab saya merasa lebih aman dari gangguan. Dengan berjilbab, orang akan menyapa saya “Assalamualaikum”, atau memanggil saya ”Bu Haji” yang juga merupakan do’a. Jadi selain merasa aman, bonusnya adalah mendapatkan do’a. Hal ini akan berbeda bila muslimah mengenakan ‘you can see everything’”

Hadirin tertawa. Hmm…

“Alasan keempat, dengan berjilbab, seorang muslimah akan merasa lebih merdeka dalam artian yang sebenarnya. Perempuan yang memakai rok mini di dalam angkot, misalnya, akan resah menutupi bagian-bagian tertentu tubuhnya dengan tas tangan. Nah, kalau saya naik angkot dengan berbusana muslimah saya bisa duduk seenak saya. Ayo, lebih merdeka yang mana?”

Hadirin tertawa lagi.

Alasan kelima, dengan berjilbab, seorang muslimah tidak dinilai dari ukuran fisiknya. Kita tidak akan dilihat dari kurus, gemuknya kita. Tidak dilihat dari hidung atau betis kita…. melainkan dari kecerdasan, karya dan kebaikan hati kita.”

Aku menunduk. Benar juga.

“Keenam, dengan  berjilbab, kontrol ada di tangan perempuan. Bukan lelaki. Perempuan yang berhak menentukan pria mana yang berhak dan tidak berhak melihatnya.”

Hadirin manggut-manggut. Yes!

“Ketujuh, dengan berjilbab, pada dasarnya wanita telah melakukan seleksi terhadap calon suaminya. Orang yang tidak memiliki dasar agama yang kuat, akan enggan untuk melamar gadis yang tidak berjilbab, bukan?”

Aku menunduk lebih dalam.

“Terakhir. Berjilbab tak pernah menghalangi muslimah dalam kebaikan.” Ujar Mbak Nadia. “Oh ya, berjilbab bukanlah suatu indikator ketakwaan, namun berjilbab merupakan realisasi amal dari keimanan seorang muslimah. Jadi lakukanlah semampunya. Tak perlu ada pertanyaan-pertanyaan negatif seperti “Kalau aku, hati dulu yang dijilbabin.” Hati kan urusan Allah, tugas kita beramal saja dengan ikhlas.”

“Setuju,” koor hadirin.

“Nah… sebagai bagian dari ummat yang besar ini, masalah jilbab bukanlah masalah yang harus membuat kita bertengkar. Pakailah dengan kesadaran dan jangan mengejek atau memaksa muslimah yang belum memakainya, malah kita harus merangkul mereka. Tunjukkan akhlak kita yang indah sebagai muslimah.”

Kini semua orang bertepuk tangan.

Aku berdiri memberi applause pada Mbak Nadia. Keren banget alasannya berjilbab.

“Alasan ini Mbak, yang bisa saya terima!” teriakku. “biasanya yang saya dengar: kita, perempuan yang pakai jilbab untuk membantu laki-laki menjaga pandangannya. Huh parah! Sebel dengernya! Kenapa harus kita yang repot menjaga pandangan mereka? Nggak banget deh!” teriakku.

——-

Gemana, Clawrr? ^^

Dear Twizz

Malam ini aku terjaga, tidak mengantuk sama sekali

Mungkin karena aku tertidur ba’da maghrib tadi. Jadi aku berbaring saja di lantai dengan selimut. Sibuk dengan pikiran-pikiran.

Tiba-tiba aku mengingatmu, membayangkan apa kira-kira yang kau lakukan ketika tidak bisa tidur.

Aku ingat kau hobi sekali ngirim sms geje jam 11 ke atas. Kubalas dengan sms maaf keesokan paginya karena nggak menanggapi sms gejemu karena tertidur.

Aku… mengamatimu dan melihat kesedihanmu lebih jelas dari siapapun. Karena kau mengijinkannya.

Aku juga dulu pernah –dengan begitu naif berjanji padamu. Janji besar!

Janji yang kuutarakan karena merasa dengan begitu akan segera menghentikan sedumu.

Juga karena merasa janji itu terdengar keren sekali. Aku bilang, mimpimu adalah mimpiku juga. Oh.. aku menjinakkanmu dan harus bertanggung jawab.

Ketika sekarang kau sudah mencapai mimpimu, aku juga seharusnya merasa bahagia karena mimpiku juga terwujud.

Sepertinya aku harus berdoa lebih khusyuk. Meminta Tuhan untuk tidak membiarkanku lupa dengan kebaikanmu selama ini. Supaya aku tidak dihukum.

Selamat jalan Twizzz, semoga selamat sampai tujuan :*

Aku di Google

Pernah ngetik nama sendiri di Google?

I did. Gabungan iseng-penasaran dan nganggur. Niru Weasley Gibson di film Wanted. Sekadar pingin tau apa yang dunia tau tentang dia. Aku juga pingin tau apa yang Google tau tentang aku.

Kesempatan pertama aku tulis nama absen : Anisah Fathiroh.

Jddar. Ternyata ada orang lain yang namanya PERSIS seperti namaku. H- setelah Anisa, dan Fathiroh. Selanjutnya page google itu berisi tentang update-an twitter dan facebook.

Di kesempatan kedua, kuketik nama gawl pemberian lingkungan alay jaman SD yang awalnya 4NeE_Zha! : Nezha Fathiroh.

Isinya cuma update-an blog lama dan baru, komenan di blog orang dan balesan mereka. sampai halaman terakhir, page 12. Isinya begitu-begitu. Membosankan. Dunia hanya tau aku sebatas twitter user yang biasa-biasa dan blogger yang jarang ngeblog. Sedih~

Hehe, awalnya membayangkan ketika ngetik nama sendiri akan muncul link tentang seminar dimana aku jadi moderator atau pembicara, atau page berisi kompilasi buku anak-anak laris tahun ini karanganku dan teman-teman, atau… di daftar pengumuman pemenang hadiah touring Olimpiade London ._.

Atau apa gitu…

Nanti deh. Bismillah.

Fiksi Yang Itu

Aku diajak lomba nulis. Untuk pertama kalinya selama 18 tahun hidup dan menyadari betapa nggak produktifnya hidup (ku)….

Meskipun lombanya juga bukan se-Jawa-Bali atau lebih tinggi, aku tetep kepingin ikutan. Lomba itu diadain sama penulis muda kakak sahabat saya Bocil, mbak Atiqah. Hadiahnya pun ‘cuma’ buku karangannya yang akan dikirim secara gratis ke alamat rumah. Okei. Coba saja.

Setelah mbaca ketentuan lomba, aku sedikit bingung. Bikin cerita mini atau flash fiction. Temanya itu tentang… Asem Manis Cinta.

Ottokae.

Aku sudah lupa gimana rasanya nulis fiksi. Terakhir… beberapa bulan lalu di tugas Bahasa Indonesia, mbikin cerpen. Mengerjakannya pun pas hari harus dikumpulin. Sehabis solat subuh sambil terburu-buru.

Dan.. ditambah temanya Asem Manis Cinta.

Aku juga lupa rasanya bikin cerita fiksi tema cinta yang itu. Yang cowok-cewek. Terakhir bikin fiksi cinta yang itu, lumayan membanggakan. 70 halaman di umur 14 tahun. Aku menyebutnya novel. -_-

Yang aku ingat, waktu itu aku semangat sekali menulis karena aku sedang benar-benar merasakannya. Aku naksir kakak kelas yang ganteng dan suka main bola, jutek, dan cool. Dia populer, aku enggak. Aku merasakan gimana senengnya ketika dia selebrasi habis nge-golin, kecewa pas nggak ketemu dalam sehari dan lain-lain. Nah, di novel itu juga menceritakan seperti itu. Macam komik serial cantik – – lalu filenya hilang karena virus.

Sekarang, sudah selesai SMA, disuruh nulis lagi yang model begitu, aku jadi bingung. Mau ngasih cerita apa? Nggak ada ide. Dari curcol temen-temen? lagu galau? … apa –? Selama ini kalau mbaca tweet-tweet gombal, atau ketika penulis populer nulis di salah satu bagian novelnya tentang cinta yang itu, aku ‘hanya’ mengagumi keindahan dia bercerita. Indah di tulisan saja. Nggak terinspirasi.

Atau… Mungkin aku yang kurang peka. Padahal kalau mau nulis fiksi itu harus peka. Huft.

Oke. Putar otakk.

Cerita naksir diam-diam itu sudah biasa. Putus cinta.. juga. Naksir sesama jenis? 0_0 bisa juga, tapi rasanya terlalu hardcore untuk lomba imut seperti ini, dan aku belum berwawasan.

Gimana kalau tentang… Aku lupa rasanya jatuh cinta yang itu.

Yawes iku ae.

Hari Teman Sedunia

Tuhan, titip temanku yg paling ku sayang ini yaa 🙂

.Cubit aja pipinya kalo dia nakal :p

.Tuntunlah dia ke jalan yang benar 🙂

.Tapi jangan biarkan air mata jatuh dipipinya yang manis itu 😦

.Karna sebagian dari semangatku ada di dirinya.

“SELAMAT HARI TEMAN SEDUNIA”

Kirim ke semua org yg kamu anggap temen, sahabat, kawan & orang yg kamu sayangi. Jika aku salah-1-nya, :$ kirim balik ya,,? hitung brp bnyak km dpt balesan. jika lbh dr 7, artinya banyak yg sayang sm kamu ❤  Selamat puasa, mantaaaaap =D=>>B-)(y)

Ada seseorang berumur hampir setengah baya mengirim SMS ini pada… Ayahku.

Emot-emot itu…. Cubit pipi? Jalan yang benar? … Pipi yang manis itu?

Luar biasa………

Revisi Mimpi

Masku sudah sidang dua minggu lalu.

“Lulus dengan revisi!”

Revisi, katanya tergantung dosen. Alhamdulillah dia revisi redaksional aja, cuma penulisan judul bab, kalimat baku, gitu-gitu doang. Nggak sampe ngerubah dari awal.

Officially, aku fix berkuliah di Surabaya. Bukan di Depok seperti selama ini diimpikan.

Jadi, daftar mimpi ini juga harus direvisi sekitar…. 30%.

Mimpi seperti Naik Bis Kuning, Selonjoran di Perpus UI, Mewakili UI di Acara Nasional atau Internasional, Baksos dengan Masyarakat Jawa Barat, Jadi Panitia UI Fest 2013, atau Aksi dengan Pake Jakun harus dihapus dan diganti. Karena semua itu hanya bisa dilaksanakan kalau jadi mahasiswa resmi UI. Diganti jadi naik busnya Airlangga, mewakili UNAIR di acara Internasional,  Baksos dengan Masyarakat Jawa Timur, dan aksi pake almamater.. (warna apa ya itu –a ) kebiruan.

Terus… daftar mimpi yang lain yang berhubungan dengan UI ternyata masih bisa dilakukan.

Seperti Sarapan dengan Mbak Hana (mimpi ini ditulis karena mbak Hana dengan berbaik hati menawari rumah kontrakannya untuk ditinggali bersama :’), Nonton Gigs ama Tissa di Jakarta, Foto dengan Mbak Vivin (Ini nggak penting banget, tapi aku sering bilang ke orangnya “ntar ae di UI”), nggonceng Ica (karena rumah Ica di Rungkut, jadi mungkin setelah habis rapat UI fest apa gitu bisa pulang bareng) atau belajar bahasa Jepang, Korea dan Rusia ama Best.

Rasanya… Semua masih bisa dilakukan di lain kesempatan dengan sebab yang berbeda. Nonton Gigs-nya di Surabaya pas Tissa lagi liburan. Dan.. mungkin habis pulang main-main dari Uswah juga bisa nggonceng Ica. Bedanya, bukan habis dari rapat UIFest.

Ini cuma revisi redaksional. Karena kata Allah, kurang tepat.

Aku sudah paham, kok.