Bukan Itu Poinnya, Bapak Terhormat…

         ” Tahun 2013, soal akan dibuat menjadi 10 tipe, tidak menutup kemungkinan 20 tipe. Sehingga peluang untuk sontekan akan kecil bahkan tidak ada.” – Mendikbud dalam Jawapos Minggu, 22 April 2013.

Aku masih belum terkejut dengan beberapa baris berita itu, kulanjutkan lagi. Sampai pada kalimat terakhir, ada semacam mangkel dan tidak habis pikir. Kesimpulannya adalah :

Tidak lama hasil UNAS akan menjadi tiket masuk perguruan tinggi negeri.

Wah, ini berlebihan.

Aku tau sendiri bagaimana UNAS berjalan, untuk yang poin pertama menjadikan soal 20 tipe rasanya bisa saja. Sekadar informasi, dengan paket 5 soal saja kita masih susah mengetahui siapa yang dapet kode soal yang sama dengan milik kita.

Kasus kebocoran soal, siswa mendapat kunci jawaban via sms sebelum masuk ruang ujian, sampai industri perjokian UNAS yang tumbuh subur adalah alasan paling kuat mengapa menjadikan UNAS tiket masuk PTN adalah… konyol.

” Soal setelah dicetak, langsung dikirim ke provinsi, lalu disebar ke kabupaten/kota  dan diambil di polsek oleh kepala sekolah masing-masing dengan kunci yang hanya dimiliki kepala sekolah, kapolsek, sehingga soal dibuka HANYA di ruang ujian, di depan peserta UNAS. Sekali lagi, semua proses itu dikawal ketat oleh pihak kepolisian.” – Kepala Sekolah saya.

Mendengar itu sempat ada sebersit yakin dengan kredibilitas UNAS, sampai aku dengar dan lihat sendiri praktiknya sama sekali tidak seoptimis harapannya. Nol besar.

Berapapun tipe soalnya di tahun-tahun mendatang, pasti jawabannya akan selalu bisa sampai dengan mulus di kertas-kertas kecil siswa. Sebelum masuk ruangan.

“Jangan percaya kunci jawaban karena itu tidak benar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Bisa-bisa salah dan tidak lulus. “- Semua media massa

Lalu bagaimana dengan kunci jawaban yang 90% benar? di hampir semua mata pelajaran? Aku mulai merasa peringatan itu hanya sebagai guyonan belaka. Mendengarnya hanya bikin ketawa.

PTN secara formal akan dimasuki oleh….. calon pembohong ulung masa depan. Karena pada kenyataannya, ada pihak-pihak terkait yang menjadikan itu ada. Joki, kunci jawaban, dapet darimana? dari orang dalam tentu saja. Tanpa mengurangi rasa hormat pada Bapak Menteri Pendidikan yang berwajah baik dan jujur, kebijakan itu hanya salah sasaran, Pak. Bukan siswa yang mencontek, tapi orang dewasa jahat terkaitlah yang membuat ide itu terdengar ironis.

Ayolah, 90% benar….

Advertisements
Bukan Itu Poinnya, Bapak Terhormat…

6 thoughts on “Bukan Itu Poinnya, Bapak Terhormat…

  1. this!! setuju banget! kadang ngeliat betapa mulusnya peserta ujian memiliki referensi jawaban membuat aku berpikir, buat apa ada unas? apa orientasinya?

    1. menurutku…. nggak papa mbak ada unas, tapi buat tau kondisi siswa tiap daerah aja. jangan jadikan syarat kelulusan, apalagi tiket masuk ptn. unas -> siswa takut -> takut-> bawa contekan.
      meskipun itu optional sih. ada yang mbawa, ada yang enggak. nah kalau model unas yang seperti itu dijadikan syarat masuk ptn, yang artinya nilai unas –yang jujur sama yg enggak, nggak ada bedanya, itu yang akan merugikan si ptn itu sendiri mbak.. menurutku.
      dan merugikan bangsa ini juga sebenarnya.

  2. Trus solusinya apa dong, mbak pohon gula? Apakah kita hanya berdiam diri mengutuk orang-orang berpikiran korup itu? Atau….. Jangan-jangan kita termasuk orang yang berpikiran korup?

    Kamu tau, yang harus kita lakukan sekarang adalah terus memperbaiki diri (mungkin) dan memegang kendali negeri ini hingga menjauhkannya dari bapak-bapak dan ibu-ibu berpikiran korup itu…

    Setuju?

    1. Qaqa best bertanya solusi dari sudut siapa? pemerintah apa kita?
      Untuk pemerintah… kalau masih saja ditemukan kasus kebocoran soal oleh media dan masyarakat, yaaa menurutku…. jangan jadikan UNAS tiket masuk ptn 🙂

      Gini, ini kan wacana jangka pendek yang akan diaplikasikan dalam 1 atau 2 tahun lagi, sedangkan saya (dan kamu) saat ini kebetulan posisinya bukan (atau belum jadi) penentu kebijakan. Bukan berarti juga saya nunggu jadi menteri dulu baru bisa bertindak, nggak seperti itu.

      Kalau solusi untuk siswa-siswanya insyaAllah jelas. Tekankan pentingnya kejujuran di semua lini kehidupan, pendidikan agama, mental yang harus kuat juga. dan memulai dari diri sendiri dan dari hal-hal kecil. Kalau mental sudah bagus, dapet bocoran atau apa aja yg nggak sesuai dengan aturan psti nggak diterima, gampangnya begitu. sama kayak yang qaqa bes tadi bilang pokoknya.

  3. sayangnya, orientasi pendidikan yang masih mengarah pada nilai di ijazah menjadi salah satu lubang yang cukup besar untuk ada enggaknya si unas.
    Makanya perlu ditekankan, maksud adanya unas itu apa? atau mungkin harus lebih mendasar lagi, maksud adanya pendidikan itu apa?

    1. unas kan kata bapak-bapak itu mau dibuat standar kualitas suatu sekolah dan suatu daerah dalam mendidik siswa-siswanya. tapi seperti yg kita sadari, itu absurd bgt.
      unas = kemendikbud ‘menekan’ pemprov, pemprov menekan diknas kota, diknas menekan kepala sekolah, –> curhatan guru di suatu siang yang jenuh,

      karena alesannya begitu, terjadilah hal-hal itu.
      “pokoke nilae duwur”. “pokoke nomer siji sak jatim”

      tujuan pendidikan? kyknya utk memanusiakan manusia mbak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s