“Be Your Self” itu Membingungkan


‘Jadilah dirimu sendiri’ itu jelasnya kayak gimana, seh?

Maksudnya.. kita kan setiap hari ketemu orang, terlibat pembicaraan seru yang kental sekali subyektifnya, mengamati perilaku mereka, membaca dan mendengar pendapat-pendapat dari televisi, blog-blog, kultwit, bahkan lirik musik.

Hal itu dikuatkan dengan sebuah teori yang pernah kita pelajari di kelas, pembentuk kepribadian itu pertama keluarga, teman sebaya, media, dan.. sekolah. Ini semua yang akan menjadikan kita manusia seperti apa.

Gimana kalau misalnya siswa SMA bernama Syamsyul sudah merasa yakin dan percaya bahwa dia itu supel, semua orang selalu merasa senang bersamanya, candaanya khas dan suka tersenyum lebar.

Lalu dia lihat si Dekisugi temannya nggak suka cewawa’an, keren ketika presentasi, beraura, solusinya jitu dan nggak grusa-grusu. Oke, Syamsyul berpikir Dekisugi bisa dicontoh.

Lalu ketika dia mencoba seperti itu, orang-orang di sekitarnya jadi bingung.

“Ini bukan kamu yang biasanya.”

“Iya, kamu terlihat berusaha keras menjadi seperti itu”

“Udahlah.. daripada jadi orang lain, kan capek. Just be yourself

Nah, ini membingungkan. Memang salah ketika si Syamsyul berusaha lebih cool? Bukannya tadi sudah disepakati dari awal bahwa pembentuk kepribadian adalah empat hal itu? Dan Syamsyul hanya sedang berada di proses itu.

Jadi.. What’s the point of ‘Be Your Self’?

Btw, post ini lama-lama terasa seperti soal cerita Sosiologi UNAS.

Fokus di Satu Objek

‘Harga satu obatnya berapa?’

‘Rp 250.000. Saya harus minum obat itu sehari minimal 4x’

‘Jadi… sehari satu juta. Kalau dihitung, sebulan mencapai 30 juta ya…’

‘Iya.. Kadang saya tanya sama dokter. Dok, saya kayak gini mau sampai kapan?

terus dokternya jawab :

‘Ya.. sampai bosen.”

Obrolan Andy F. Noya dengan narasumbernya tentang komunitas sepeda yang berjuang untuk membantu para penderita leukimia baik dari moril dan materiil sore ini cukup bikin badan menegang.

30 juta perbulan.

Nominal itu bagi sebagian orang sangat banyak. Jumlah yang sangat banyak itu amat dibutuhkan mereka para penderita kanker untuk mengurangi sakit yang diderita. Mengurangi sakit saja, karena obat itu tidak bersifat menyembuhkan.

Nonton acara begituan itu memang butuh mental bagus. Karena nonton, membaca, hadir, di acara-acara seperti itu bagiku kadang akan menjadi ajang penghakiman diri sendiri. After tastenya jelas ; diri akan merasa tidak berguna, belum melakukan apa-apa, dan onfire hanya di situasi tertentu saja. Meskipun itu semua sedikit-sedikit dibarengi perasaan yang lebih melegakan seperti bersyukur, termotivasi dan lain-lain.

Dan di post ini, aku akan mengedepankan sisi yang sedikit-sedikit itu.

Mungkin ketika kita sedang ngamuk-ngamuk, merasa kurang sana-sini karena keperluan sekolah ditalangi uang saku karena uang bulanan belum turun, sumpek buku tahunan, klewas-klewes belajar, masih menyempatkan diri membaca-youtubing Korea-Korea an, daydreaming dan segala hal gak berguna lainnya.. kita perlu diam sejenak.

Coba mengangkat tangan dan mengamati tangan sampai kulit terasa transparan.  Sehingga kita bisa melihat dan merasakan dengan jelas darah mengalir begitu lancarnya (‘darah baik-baik aja’ sebulan harganya 30juta), merasakan jantung terus berdetak memompa, kaki masih bisa menjejak tanah, merasakan ngeresnya lantai kamar, kita bisa berdiri sambil presentasi di depan kelas, bisa lari dari tempat parkir ke kelas, sepatu masih terlihat pas dipakai di kaki yang  nggak ada cacatnya. Belum lagi mata, bibir, telinga, dan otak yang insyaAllah masih bisa menjalankan fungsinya dengan baik.

Apa saja. Fokus pada satu objek dan bayangkan betapa berharganya ia dalam hidup kita. Betapa berharganya meja ini, betapa berharganya kepala ini, jemari ini. Dan betapa berharganya orang-orang itu.

Singkatnya, masak kita masih ‘tega’ klewas-klewes dengan segala hal menakjubkan di sekitar kita. Masak mau berterima kasih dengan cara seperti itu?

Kalau sudah jujur, InsyaAllah.. syukur yang gantikan semua kejemuan dan kemalasan, semangat baru pun datang.

Atau malah nangis, karena lagi-lagi merasa nggak berguna dan belum melakukan apa-apa.

Senja

Kita semua punya senja.
Senja yang selalu menunggu ketika seharian lelah berjaga. Senja yang bagi banyak orang adalah kekuatan abadi.
Tapi ini berbeda.
Seperti senja yang disandera mendung. Ia, yang lantunannya melembut sedetik kemudian tertawa.
Sebenarnya apa yang kau rasakan?
Dedahan dan reranting beradu untuk memperindah senja. Cantik sekali.
Tapi menurutmu mereka berisik. Menganggu konsentrasi.
Memiliki senja yang sendu itu bukan pilihanmu.
Menyalahkan semestapun rasanya kurang ajar.
Aku yang kemudian mahfum ketika mereka menuntun kita untuk memikirkan senja yang tiba-tiba wafat.
Kau hanya diam. Bingung memvisualisasikannya di pikiran.
Karena kau mati rasa. Karena kau sudah terlalu sering menabur kapur untuk mengurangi segala hal yang memerihkan.
Hingga kau tak lagi mampu membedakan mana kangen, sayang, tulus maupun kecewa.
Aku ingat ketika kau akhirnya berjanji. Tak akan menjelma menjadi senja yang memilukan.
Kau ingin jadi senja yang cerah dan mendamaikan.. karena tak ingin mengecewakan anak-anak sore yang membanggakanmu.

Tidak seperti senja yang khilaf dalam menilaimu.

Be strong .